Starlink V3 Berhasil Dilepas, Booster Starship SpaceX Kembali Gagal


JAKARTA – SpaceX berhasil menempatkan satelit Starlink generasi ketiga atau Starlink V3 untuk pertama kalinya. Namun, uji terbang ke-13 Starship itu belum mulus karena booster Super Heavy kembali gagal dalam simulasi pendaratan di Teluk Meksiko.

TechCrunch dikutip Sabtu, 25 Juli, melaporkan, peluncuran pada Jumat itu memakai versi terbaru dari prototipe Starship. Satelit Starlink V3 berhasil dilepas, tetapi booster tidak mampu menyelesaikan manuver pendaratan simulasi sesuai rencana.

Booster adalah pendorong utama roket saat fase awal peluncuran. Pada sistem Starship, bagian ini disebut Super Heavy.

Ini menjadi masalah kedua pada booster Super Heavy dalam versi V3 Starship. Pada Mei, dalam penerbangan pertama Starship V3, SpaceX juga mengalami kegagalan pada Super Heavy saat booster itu terpisah dari tahap atas roket.

Dalam peluncuran terbaru, SpaceX mendapat hasil lebih baik pada tahap atas Starship. Setelah melepas satelit Starlink, tahap atas tersebut berhasil menjalankan simulasi pendaratan.

Peluncuran ini dilakukan sedikit lebih dari sepekan setelah SpaceX membatalkan percobaan peluncuran Starship ke-13. Saat itu, misi harus dihentikan segera setelah mesin menyala karena sejumlah mesin roket gagal bekerja.

SpaceX mengatakan telah mengganti enam mesin sebelum penerbangan Jumat untuk memperbaiki masalah tersebut.

Pada peluncuran Jumat, booster Super Heavy melaju lebih jauh dalam rencana penerbangannya. Namun, booster itu tidak mampu menyalakan semua mesin yang dibutuhkan untuk pembakaran simulasi pendaratan.

Booster kemudian meledak setelah menghantam permukaan air lebih cepat dari perkiraan.

Uji kali ini juga menjadi peluncuran Starship pertama sejak SpaceX melantai di bursa pada Juni lewat penawaran umum perdana atau IPO terbesar sepanjang sejarah.

Kegagalan booster ikut menguji pendekatan pengembangan Starship yang kerap disebut SpaceX sebagai “terbang, gagal, perbaiki”. Pendekatan ini lazim dalam uji roket, tetapi kini ikut dibaca investor lewat pergerakan saham.

Saham SpaceX sempat turun pekan lalu sehari setelah pembatalan peluncuran. Penurunan itu menjadi bagian dari tren lebih besar sejak IPO. Harga saham perusahaan turun dari puncak lebih dari 200 dolar AS per saham menjadi 115 dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat.

Dalam perdagangan setelah jam bursa, saham SpaceX kembali turun 2 persen setelah kegagalan booster, sebelum memangkas sebagian pelemahannya.

Meski booster gagal, tahap atas Starship V3 menunjukkan kemajuan. Pada peluncuran V3 pertama Mei lalu, tahap atas kehilangan satu mesin roket. Kali ini, masalah itu tidak terjadi.

Starship melaju tanpa kendala besar hingga berhasil melepas satelit Starlink baru. Tahap atas yang disebut SpaceX sebagai Ship juga mampu bertahan saat masuk kembali ke atmosfer.

Sekitar satu jam setelah lepas landas, Ship melakukan simulasi pendaratan di Samudra Hindia.

Berbeda dari misi Starship sebelumnya, Ship tidak meledak ketika terguling ke air. Wahana itu justru mengapung, memberi SpaceX kesempatan memakai drone untuk memeriksa ubin pelindung panas di bagian bawahnya.

Dalam uji ini, Starship belum mencapai orbit Bumi sehingga satelit Starlink V3 yang dilepas kemudian terbakar di atmosfer sekitar 20 menit setelah penempatan.

Namun, SpaceX tetap dapat berkomunikasi dengan seluruh satelit tersebut saat masih berada di luar angkasa. TechCrunch menyebut Starlink menjadi satu-satunya bagian bisnis SpaceX yang menghasilkan laba.

Starlink V3 penting bagi hitung-hitungan bisnis SpaceX. Satelit baru itu disebut lebih mumpuni dan dapat memperbaiki keekonomian jaringan internet antariksa yang membutuhkan modal besar.

SpaceX menyebut peluncuran 60 satelit Starlink V3 dengan Starship berpotensi meningkatkan kapasitas downlink hingga 20 kali lipat dibandingkan satelit yang diterbangkan dengan satu Falcon 9.

Downlink adalah kapasitas pengiriman data dari satelit ke pengguna di Bumi. Dalam bisnis internet satelit, kapasitas ini menentukan seberapa besar layanan bisa melayani pengguna.

Namun, manfaat itu belum tentu penuh jika SpaceX masih harus mengorbankan booster Super Heavy, bukan menggunakannya kembali.

Dalam dokumen S-1, SpaceX menyatakan tanpa Starship yang sepenuhnya dapat dipakai ulang, pengembangan Starlink “akan berjalan lebih lambat dan berbiaya lebih tinggi.”

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *