
JAKARTA – Aston Martin kembali mengambil langkah strategis untuk memperkuat kondisi keuangannya setelah memperoleh pendanaan utang baru senilai 550 juta poundsterling atau sekitar Rp13,2 triliun. Suntikan dana tersebut hadir di tengah tantangan finansial yang masih membayangi pabrikan mobil sport asal Inggris itu, yang sepanjang sejarahnya telah tujuh kali mengajukan kebangkrutan.
Dilansir Carscoops, Sabtu, 25 Juli, paket pendanaan tersebut dipimpin oleh HPS Investment Partners. Skemanya terdiri dari pinjaman berjangka dengan jaminan senilai 450 juta poundsterling (sekitar Rp10,7 triliun), ditambah fasilitas pinjaman berjangka yang dapat dicairkan kemudian sebesar 100 juta poundsterling (sekitar Rp2,4 triliun).
Aston Martin juga memperoleh kapasitas tambahan utang hingga 100 juta poundsterling. Perusahaan menjelaskan, dana sebesar 450 juta poundsterling akan dimanfaatkan untuk melunasi fasilitas kredit bergulir super senior senilai 170 juta poundsterling atau sekitar Rp4 triliun.
Selain itu, dana tersebut juga akan digunakan untuk membayar pinjaman 20 juta poundsterling (sekitar Rp478,6 miliar) yang sebelumnya ditarik dari fasilitas pinjaman 50 juta poundsterling (sekitar Rp1,2 triliun) yang disediakan anggota Yew Tree Consortium, kelompok investasi yang dipimpin salah satu pemilik Aston Martin, Lawrence Stroll.
“Pendanaan utang baru sebesar 550 juta poundsterling ini secara signifikan memperkuat likuiditas kami, memberikan ketahanan tambahan sekaligus fleksibilitas yang lebih besar untuk menjalankan rencana produk saat ini maupun di masa mendatang,” ujar Chief Financial Officer Aston Martin Doug Lafferty.
Aston Martin juga menegaskan komitmennya untuk meningkatkan performa keuangan dibandingkan tahun lalu. Target tersebut mencakup peningkatan arus kas dan margin keuntungan melalui kombinasi penjualan yang lebih optimal dari jajaran model inti maupun model edisi khusus yang akan diluncurkan di masa mendatang.
Pendanaan terbaru ini muncul di tengah spekulasi mengenai potensi masuknya pengaruh yang lebih besar dari Geely. Beberapa bulan lalu, beredar laporan bahwa produsen otomotif asal China tersebut berpeluang mengambil alih Aston Martin.
Saat ini Geely telah memiliki sejumlah merek otomotif Inggris, seperti Lotus dan London Electric Vehicle Company (LEVC), sementara pendiri sekaligus Chairman Geely, Li Shufu, dikenal memiliki minat besar terhadap industri otomotif Inggris. Hingga kini belum diketahui bagaimana sikap para pemegang saham Aston Martin terhadap kemungkinan bertambahnya pengaruh Geely.
Namun, kondisi valuasi perusahaan yang terus merosot dapat menjadi peluang bagi Geely. Nilai pasar Aston Martin yang sebelumnya sempat mencapai sekitar 4,3 miliar poundsterling atau sekitar Rp103 triliun, kini disebut hanya tersisa sekitar sepersepuluh dari angka tersebut.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
