
JAKARTA – Sebuah koleksi fesyen lahir dari berbagai inspirasi, mulai dari perjalanan, budaya, tradisi, hingga pengalaman personal. Berbagai hal tersebut kemudian diolah menjadi busana yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga membawa cerita.
Hal itu terlihat dalam JF3 Fashion Festival 2026 yang mempertemukan desainer Indonesia dan mancanegara dengan beragam pendekatan kreatif.
Sejumlah koleksi menunjukkan bagaimana fesyen menjadi ruang untuk mempertemukan budaya, mengolah tradisi, dan menerjemahkan pengalaman ke dalam bentuk modern.
Salah satunya koleksi GARUDA karya desainer Indonesia Beatrice Angelica, pendiri NOEN, bersama desainer Prancis Mickael “Marlon” Nana, pendiri MARLON NANA.
Bagian dari PINTU Residency Program, koleksi ini mempertemukan warisan tekstil Indonesia dengan teknik tailoring Barat, terinspirasi foto arsip Indonesia akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.
Teknik draping tradisional, siluet lilit, dan tekstil buatan tangan diolah secara kontemporer melalui 10 tampilan. Koleksi ini juga melibatkan perajin perempuan di Lombok untuk mengembangkan tiga tekstil tenun tangan eksklusif menggunakan teknik songket dan tenun.
Eksplorasi hubungan Indonesia dan Prancis berlanjut melalui AU LARGE, kolaborasi desainer Prancis Lisa Rayar dan perancang busana Indonesia Gabriel Marcella. Dikembangkan melalui PINTU Incubator, koleksi ini terinspirasi hubungan masyarakat kedua negara dengan laut.
AU LARGE, yang berarti “di lepas pantai” dalam bahasa Prancis, mempertemukan tradisi maritim Prancis dengan kehidupan masyarakat pesisir Jawa Utara. Penelitian Gabriel mengenai tradisi Sedekah Laut menjadi salah satu sumber inspirasi.
Koleksi 12 tampilan ini memadukan pakaian kerja maritim Prancis dengan batik buatan tangan, denim, katun, rajutan, kain bergaris, hingga jaring bersulam.
“Laut sering dipandang sebagai batas. Melalui AU LARGE, kami ingin menunjukkan bahwa laut juga bisa menjadi tempat pertemuan, di mana keahlian kerajinan, tradisi, dan gestur yang sama menghubungkan orang-orang lintas budaya.” ujar Lisa Rayar dan Gabriel Marcella di Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta pada Kamis, 23 Juli 2026.
Pertemuan budaya juga terlihat dalam kolaborasi TAREET dan DENIMITUP yang mengangkat hubungan Indonesia dan Senegal. Elemen pakaian dari kedua budaya diolah menjadi busana hibrida bergaya kontemporer. Inspirasi kuda menjadi salah satu titik temu, dari istilah “Fas” dalam bahasa Wolof hingga delman sebagai kendaraan tradisional Indonesia.
Sementara itu, desainer asal Paris Rohan Mirza membawa penonton ke dunia budaya internet dan realitas digital melalui koleksi Stonehaven. Koleksi ini mengeksplorasi hubungan emosional manusia di era digital, mitos internet, kenangan masa kecil, hubungan keluarga, hingga komunitas yang terbentuk di dunia nyata maupun virtual. Koleksi ini juga memadukan narasi personal, keahlian teknis, dan teknologi pencetakan 3D.
Cerita pengalaman personal kembali hadir melalui koleksi Louiseguard karya desainer Prancis, Louise Marcaud. Terinspirasi kunjungannya ke Indonesia pada JF3 tahun sebelumnya, Louise mengeksplorasi pasar tekstil Jakarta dan mengumpulkan kain lurik, batik, serta berbagai benda sehari-hari.
Pengalamannya menyaksikan Sendratari Ramayana turut memengaruhi koleksi melalui kekayaan kostum dan atmosfer teatrikal. Referensi tersebut kemudian dipadukan dengan dunia kolam renang dan sosok penjaga pantai, menghadirkan kisah musim panas imajiner melalui tailoring bergaris, rajutan bergaya pakaian renang vintage, bikini, celana bermuda, celana capri, dan gaun ringan.
Sementara itu, label 30%70 yang didirikan desainer Prancis-China Fengyuan DAI di Paris mengangkat gagasan tentang keseimbangan melalui busana genderless. Konsep tersebut mempertemukan berbagai hal yang berbeda, seperti Timur dan Barat, tradisi dan modernitas, serta craftsmanship dan inovasi.
Beragam koleksi di JF3 Fashion Festival 2026 memperlihatkan bagaimana fesyen dapat menjadi medium untuk menerjemahkan pengalaman, identitas, dan budaya. Inspirasi hadir dari warisan tekstil, kehidupan masyarakat pesisir, hubungan antarbudaya, perjalanan ke Indonesia, hingga realitas digital.
Melalui pendekatan yang berbeda, para desainer menunjukkan tradisi dan modernitas dapat berjalan beriringan untuk menghasilkan karya yang tetap memiliki cerita dan identitas.
JF3 Fashion Festival merupakan inisiatif Summarecon yang didukung oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, dan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum Republik Indonesia, serta turut didukung oleh BRImo.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
