JAKARTA – Permintaan Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar Arab Saudi bergabung dengan Perjanjian Abraham (Abraham Accords), sebagai bagian dari kesepakatan nuklir yang sebelumnya diumumkan, mengejutkan tim negosiator nuklir AS.
Gedung Putih menyatakan ketentuan baru itu telah lama menjadi tujuan Trump dan seharusnya tidak mengejutkan, menurut laporan CNNpada Kamis (23/7), dengan mengutip sumber-sumber yang mengetahui masalah tersebut.
Kebingungan bermula dari pengumuman Menteri Energi AS Chris Wrightyang dilakukan secara terburu-buru terkait kesepakatan yang belum final, meskipun Gedung Putih telah meminta agar pengumuman tersebut ditunda.
Menurut sumber CNN dilansir ANTARA, situasi itu membuat Trump marah dan memicu perselisihan internal di pemerintahannya. Pembicaraan awal mengenai kesepakatan tersebut berlangsung pada April 2025, saat Wright melakukan kunjungan luar negeri pertamanya ke Arab Saudi.
Sebelumnya, Trump mengatakan kesepakatan kerja sama nuklir antara AS dan Arab Saudi bergantung pada keikutsertaan Saudi dalam Perjanjian Abraham.
Kesepakatan yang diumumkan Departemen Energi AS pada Rabu (22/7) itu memberikan akses yang lebih luas bagi perusahaan asal AS terhadap program energi nuklir Arab Saudi.
Perjanjian Abraham adalah serangkaian kesepakatan mengenai normalisasi hubungan diplomatik, ekonomi, dan keamanan antara Israel dengan beberapa negara Arab. Perjanjian itu dimediasi ASpada tahun 2020 di masa pemerintahan Trump periode pertama.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
