Tidur Buruk Dikaitkan dengan Risiko Kanker Usia Muda, tetapi Belum Terbukti Jadi Penyebab


JAKARTA – Pola tidur buruk dikaitkan dengan meningkatnya kemungkinan sejumlah kanker pada orang berusia di bawah 50 tahun. Namun, para ahli mengingatkan temuan itu belum membuktikan gangguan tidur menjadi penyebab langsung kanker.

The Guardian dikutip Kamis, 23 Juli, menyebut kesimpulan tersebut berasal dari dua penelitian besar yang menganalisis data kesehatan lebih dari 18 juta orang dewasa di Amerika Serikat berusia 18 hingga 50 tahun.

Tidur buruk merupakan istilah luas yang mencakup kualitas tidur rendah, waktu tidur tidak teratur, tidur terlalu singkat, atau sering terbangun. Sementara itu, insomnia adalah gangguan yang lebih khusus, seperti sulit mulai tidur, sulit mempertahankan tidur, atau bangun terlalu dini.

Penelitian dipimpin tim dari Jefferson Health New Jersey di Stratford, New Jersey, serta Ochsner MD Anderson Cancer Center di New Orleans, Louisiana.

Hasilnya dipresentasikan dalam pertemuan tahunan American Society of Clinical Oncology di Chicago, salah satu konferensi kanker terbesar di dunia.

Peneliti menemukan orang dengan pola tidur buruk memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami kanker usus, payudara, rahim, atau ovarium sebelum berusia 50 tahun.

Dalam beberapa kasus, orang berusia di bawah 50 tahun yang didiagnosis insomnia memiliki kemungkinan tiga kali lebih besar mengalami kanker dalam lima tahun.

“Temuan ini menunjukkan gangguan tidur mungkin menjadi faktor risiko yang penting dan dapat diperbaiki dalam menilai risiko kanker usia dini,” kata para peneliti.

Mereka menegaskan hubungan tersebut masih perlu diteliti lebih lanjut.

Kasus kanker usia dini di dunia naik hampir 80 persen dalam tiga dekade, dari 1,82 juta pada 1990 menjadi 3,26 juta pada 2019. Kematian akibat kanker pada orang berusia 40-an, 30-an, atau lebih muda juga meningkat 27 persen.

Penelitian yang diterbitkan dalam BMJ Oncology mencatat lebih dari 1 juta orang berusia di bawah 50 tahun meninggal akibat kanker setiap tahun.

Claire Coughlan dari Bowel Cancer UK mengatakan kanker usus masih lebih sering ditemukan pada orang berusia di atas 50 tahun. Namun, bukti dari berbagai negara menunjukkan jumlah kasus pada kelompok yang lebih muda terus meningkat.

“Kami belum mengetahui secara pasti penyebabnya. Para peneliti saat ini menduga faktor genetik dan gaya hidup mungkin berperan,” kata Coughlan.

Menurut Coughlan, temuan mengenai insomnia dapat membantu menjelaskan kenaikan kanker usus pada usia muda. Namun, hasil penelitian tersebut tetap perlu diuji lebih jauh.

Dokter David Garley dari Better Sleep Clinic di Bristol meminta temuan itu dibaca dengan hati-hati.

Ia menegaskan penelitian tersebut hanya menemukan hubungan, bukan bukti bahwa gangguan tidur menyebabkan kanker pada orang berusia di bawah 50 tahun.

Garley mengatakan kurang tidur juga dapat membuat seseorang lebih sulit menjalani pola hidup sehat. Kondisi itu dapat berkaitan dengan konsumsi alkohol, obesitas, kurang olahraga, dan merokok.

Ia juga menjelaskan tidur berperan dalam pemulihan sistem kekebalan tubuh. Gangguan pada fungsi tersebut mungkin ikut memengaruhi risiko sejumlah kanker.

Namun, arah hubungan bisa terjadi sebaliknya. Kanker yang belum menimbulkan gejala jelas mungkin lebih dulu mengubah pola tidur seseorang.

The Guardian juga menyebut para ahli yang tidak terlibat dalam penelitian menanggapi positif temuan tersebut, tetapi meminta pengamatan lebih panjang sebelum kesimpulan dibuat.

Megan Winter dari Cancer Research UK mengatakan penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memastikan hubungan antara insomnia dan beberapa jenis kanker pada orang berusia di bawah 50 tahun.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *