Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, BI Perkuat Intervensi Pasar dan Dorong Transaksi Mata Uang Lokal


JAKARTA – Deputy Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menegaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas dan menghambat prospek perdamaian kawasan.

Sebagai informasi, berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 12.37 WIB, rupiah berada di level Rp18.043 per dolar AS, melemah 76,50 poin atau 0,43 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Menurutnya kondisi tersebut mendorong harga minyak dunia tetap tinggi, sehingga meningkatkan risiko inflasi global serta memicu arus keluar modal dari negara berkembang (emerging markets).

Di sisi domestik, ia menambahkan bahwa kebutuhan valuta asing juga masih relatif besar, terutama untuk repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri (ULN).

Destry menegaskan secara year-to-date (YTD), rupiah tercatat melemah sekitar 7,44 persen, meski pergerakannya masih sejalan dengan mata uang regional lainnya.

“Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai dengan fundamentalnya,” ujarnya kepada VOI, Kamis, 4 Juni.

Destry menyampaikan Bank Indonesia berkomitmen untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui berbagai langkah intervensi di pasar keuangan.

Ia menambahkan intervensi dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Selain menjaga stabilitas pasar, ia menjelaskan bahwa BI juga memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter yang pro-market guna mempertahankan daya tarik aset domestik bagi investor asing, serta berkoordinasi dan komunikasi dengan korporasi serta pelaku pasar juga terus dilakukan secara intensif.

Di sisi lain, Destry menyampaikan Bank Indonesia juga terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT) sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus memitigasi risiko volatilitas nilai tukar.

“Kerja sama tersebut telah terjalin dengan Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. Diversifikasi transaksi perdagangan melalui skema LCT ini terus mengalami peningkatan di bulan April mencapai sekitar 22,7 miliar (dolar AS) vs full year tahun lalu yang sekitar 25,7 miliar (dolar AS),” tegasnya.

Dia menegaskan, meski tekanan global masih tinggi, cadangan devisa Indonesia tetap terjaga kuat di level 146,2 miliar dolar AS pada akhir April 2026.





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *