Garis Merah di Gua Wales yang Dikira Noda Alam Ternyata Seni Manusia Purba Berusia 17 Ribu Tahun


JAKARTA – Garis merah di sebuah gua di Wales sempat dianggap cuma bekas rembesan mineral. Lebih dari satu abad kemudian, para ilmuwan menyimpulkan tanda itu bukan coretan alam. Itu jejak jari manusia dari 17.100 tahun lalu.

Melansir laporan NBC News, Selasa, 2 Juni, temuan di gua Bacon Hole, dekat Mumbles, Wales Selatan, kini dinyatakan sebagai seni prasejarah tertua yang diketahui di Inggris dan Eropa barat laut.

Garis-garis merah itu pertama kali ditemukan pada 1912. Saat itu, Profesor William Sollas dan Henri Breuil menilainya sebagai seni prasejarah. Namun, tafsir tersebut kemudian ditolak. Tanda itu dianggap berasal dari endapan mineral yang merembes melalui batu.

Penilaian itu berubah setelah tim ilmuwan internasional meneliti ulang panel batu tersebut. Dalam studi yang terbit di jurnal Quaternary, para peneliti menyimpulkan garis merah itu sengaja dibuat manusia, bukan terbentuk secara alami.

George Harold Nash, arkeolog dan spesialis seni prasejarah yang memimpin riset tersebut, mengatakan panel itu lama terlupakan oleh komunitas arkeologi.

“Terabaikan dan tidak dikenali, panel itu selama ini tak lebih dari catatan kaki sejarah,” kata Nash kepada NBC News melalui email.

Tim peneliti menggunakan teknik penanggalan modern. Sampel pigmen diperiksa di laboratorium, lalu dibandingkan dengan pengamatan langsung di gua. Pigmen adalah bahan warna yang dipakai untuk membuat tanda atau lukisan.

Hasilnya, garis horizontal merah itu tersusun rapi, berjarak teratur, dan membentuk pola yang dinilai disengaja. Bukti juga menunjukkan pigmen tersebut dioleskan dengan jari manusia.

Nash menyebut momen penemuan ulang itu sangat menggugah. Menurutnya, berdiri di depan panel yang ditemukan lebih dari 110 tahun lalu, lalu sempat diabaikan, adalah pengalaman luar biasa.

Makna garis merah itu belum bisa dipastikan. Namun, Nash mengatakan seni gua di Eropa kerap terkait dengan ritual, simbol, dan sistem kepercayaan masyarakat purba.

Sekitar 17.100 tahun lalu, kawasan itu baru keluar dari masa glasial atau zaman es yang sangat keras. Bacon Hole dan gua-gua lain di pesisir selatan Wales kemungkinan menjadi tempat tinggal kelompok pemburu, penangkap ikan, dan pengumpul makanan.

Namun, menurut Nash, gua itu tampaknya bukan sekadar tempat berlindung. Letak seni yang berada jauh di dalam gua menunjukkan tempat tersebut mungkin memiliki makna budaya bagi manusia Zaman Es.

Menurut laporan NBC News, penafsiran situs itu sempat rumit karena ada grafiti seorang nelayan lokal dari 1894 di dinding lain ruang gua.

Kini Bacon Hole berada di bawah pengelolaan National Trust Wales. Lembaga itu, bersama Bradshaw Foundation, mendanai penelitian ilmiah di lokasi tersebut.

National Trust Wales mendukung usulan agar Bacon Hole ditetapkan sebagai scheduled monument, yakni situs penting yang mendapat perlindungan hukum khusus.

Nash meminta perlindungan tertinggi bagi situs itu. Alasannya karena seni prasejarah sangat langka dan rapuh.

“Sekali rusak atau hancur, ia tidak akan pernah bisa digantikan,” kata Nash





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *