JAKARTA – Pasar global bergerak hati-hati pada Senin. Investor menimbang dua hal besar sekaligus: peluang kesepakatan Amerika Serikat-Iran dan reli saham teknologi yang masih ditarik euforia kecerdasan buatan atau AI.
Anadolu Agency dikutip Senin, 1 Juni, melaporkan, sentimen pasar membaik setelah muncul laporan Washington dan Teheran makin dekat dengan kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata dan membuka perundingan soal program nuklir Iran.
Menurut laporan Axios, perunding AS dan Iran telah menyepakati dokumen kerangka 60 hari. Isinya mencakup perpanjangan gencatan senjata, pembukaan pembicaraan nuklir Iran, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta pelonggaran pembatasan lalu lintas laut yang terkait pelabuhan Iran.
Namun, kesepakatan itu belum final. Presiden AS Donald Trump belum memberi persetujuan akhir. Wakil Presiden AS JD Vance juga menyebut masih ada perbedaan soal arah pembicaraan nuklir Iran.
Ketidakpastian itu membuat pasar belum sepenuhnya tenang. Selat Hormuz adalah jalur penting perdagangan minyak dunia. Jika jalur ini terganggu, harga energi bisa kembali menekan inflasi dan mengganggu arus barang.
Minyak Brent naik 1,3 persen menjadi 92,6 dolar AS per barel pada Senin. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ikut naik tiga basis poin ke 4,47 persen. Kenaikan ini menunjukkan kekhawatiran pasar bahwa harga energi tinggi bisa membuat tekanan inflasi bertahan lebih lama.
Indeks Dolar AS naik 0,1 persen ke 99. Harga emas turun 0,7 persen menjadi 1.451 dolar AS per ounce.
Di luar isu Iran, Anadolu Agency juga mencatat putaran pertama pembicaraan peninjauan Perjanjian AS-Meksiko-Kanada atau USMCA telah selesai. Para perunding membahas isu otomotif, perdagangan baja dan aluminium, serta keamanan ekonomi.
Sementara itu, Badan Energi Internasional, Dana Moneter Internasional, Bank Dunia, dan Organisasi Perdagangan Dunia memperingatkan konflik Timur Tengah masih menjadi risiko bagi ekonomi global, pasar energi, dan arus perdagangan.
Lembaga-lembaga itu menyebut gangguan pelayaran yang tidak segera normal dapat memperbesar risiko keamanan pasokan bahan bakar, stabilitas pasar, dan ketahanan ekonomi. Apalagi, persediaan minyak global turun cepat menjelang puncak permintaan musim panas di Belahan Bumi Utara.
Di sisi lain, saham teknologi masih menjadi penopang pasar. Dell Technologies mencatat pertumbuhan pendapatan kuat dan menaikkan proyeksi pendapatan setahun penuh. Sahamnya melonjak 33 persen pada 29 Mei.
Pada hari yang sama, Dow Jones Industrial Average naik 0,72 persen, S&P 500 menguat 0,22 persen, dan Nasdaq Composite bertambah 0,21 persen. Pasar saham AS juga membuka perdagangan Senin di zona positif.
Investor kini menunggu data tenaga kerja nonpertanian AS yang akan dirilis Jumat. Data ini menjadi penting karena memberi gambaran terbaru soal pasar kerja dan dampak perubahan industri yang didorong AI.
Di Eropa, pasar bergerak campuran. Ekonomi Prancis menyusut 0,1 persen secara kuartalan pada kuartal pertama. Di Jerman, indeks harga konsumen turun 0,2 persen pada Mei, sementara inflasi tahunan melambat menjadi 2,6 persen dari 2,9 persen pada April.
Kementerian Keuangan Jerman menyebut enam ekonomi terbesar Uni Eropa telah menyepakati posisi bersama untuk memperdalam integrasi dan memperkuat kerja sama pasar modal.
Pada 29 Mei, DAX 40 Jerman naik 0,05 persen dan FTSE MIB 30 Italia menguat 0,42 persen. FTSE 100 Inggris turun 0,16 persen, sedangkan CAC 40 Prancis melemah 0,7 persen. Pasar Eropa dibuka melemah pada Senin.
Di Asia, sentimen positif dari Wall Street ikut terasa. Laporan bahwa CEO Nvidia Jensen Huang akan bertemu para eksekutif teknologi Korea Selatan pekan ini mendorong saham teknologi di negara itu. Saham LG naik hampir 30 persen.
Kospi Korea Selatan melonjak 4,5 persen ke rekor 8.874,16 poin. Hang Seng Hong Kong naik 0,9 persen. Nikkei 225 Jepang menguat 0,8 persen ke rekor 67.231,28 poin.
Namun, China bergerak berbeda. Shanghai Composite turun 0,1 persen setelah indeks manajer pembelian atau PMI manufaktur China melemah ke 51,8 pada Mei dari 52,2 pada April.
