JAKARTA – Pemprov DKI Jakarta mulai mewanti-wanti potensi lonjakan limbah saat Iduladha 1446 Hijriah. Sebab, puluhan ribu hewan kurban diperkirakan akan disembelih di Jakarta dalam waktu bersamaan dan berisiko menimbulkan pencemaran jika pengelolaannya sembarangan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta Dudi Gardesi mengatakan, tahun ini diperkirakan ada sekitar 77.436 ekor hewan kurban yang dipotong di Jakarta. Jumlah tersebut dinilai berpotensi menghasilkan limbah besar, mulai dari darah, sisa organ, hingga penggunaan air dalam volume tinggi.
“EcoQurban ini selaras dengan Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 30 Tahun 2025 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pemotongan Hewan Kurban, tidak hanya dalam proses pelaksanaannya, tetapi hingga tahap distribusi daging kurban,” kata Dudi dalam keterangannya, Selasa, 26 Mei
Dinas LH DKI pun mengajak masyarakat dan panitia kurban menerapkan konsep EcoQurban agar pelaksanaan penyembelihan hewan berlangsung lebih bersih dan ramah lingkungan.
Konsep itu mencakup pengelolaan limbah pemotongan, pengurangan sampah plastik, hingga penghematan penggunaan air selama proses kurban berlangsung.
Menurut Dudi, kebutuhan air saat penyembelihan hewan kurban tergolong besar. Satu ekor hewan bisa membutuhkan sekitar 500 hingga 1.000 liter air hanya untuk proses pembersihan. Di sisi lain, produksi daging juga memiliki jejak penggunaan air yang tinggi atau water footprint.
“Setiap ekor hewan kurban membutuhkan sekitar 500 hingga 1.000 liter air untuk proses pembersihan. Selain itu, produksi daging juga memiliki jejak penggunaan air yang tinggi atau water footprint, yakni sekitar 15 meter kubik air untuk menghasilkan 1 kilogram daging sapi,” ucap dia.
Dudi mengingatkan limbah cair seperti darah dan air bekas pencucian tidak boleh dibuang langsung ke saluran lingkungan karena berpotensi mencemari air dan memicu bau tak sedap.
Karena itu, darah hewan diminta ditampung terlebih dahulu menggunakan wadah kedap air sebelum diberi desinfektan seperti kapur atau klorin.
“Air bekas pencucian juga perlu dipastikan tidak lagi mengandung darah agar tidak mencemari saluran air dan masih dapat dimanfaatkan, misalnya untuk menyiram tanaman,” urai Dudi.
Selain limbah cair, Dinas LH juga menyoroti persoalan sisa organ dan bagian tubuh hewan yang tidak dimanfaatkan. Limbah organik tersebut diminta tidak dibuang sembarangan ke tempat sampah umum maupun saluran air.
Jika tersedia lahan, sisa organ hewan dapat ditimbun di tanah dengan tambahan disinfektan. Sementara pengolahan menggunakan maggot Black Soldier Fly (BSF) juga dinilai bisa menjadi alternatif untuk mengurangi timbulan sampah organik selama Iduladha.
Tak hanya itu, Dudi juga mulai menekan penggunaan kantong plastik sekali pakai saat pembagian daging kurban. Warga dianjurkan menggunakan wadah yang lebih ramah lingkungan seperti besek bambu, daun pisang, daun jati, atau wadah guna ulang lainnya.
Dinas LH turut mengingatkan masyarakat agar tidak berlebihan mengolah makanan selama Iduladha guna mengurangi food waste. Salah satu cara yang dianjurkan ialah memasak sesuai kebutuhan dan menerapkan konsep prasmanan.
“Melalui penerapan EcoQurban ini, kami berharap pelaksanaan ibadah kurban tidak hanya membawa manfaat sosial dan keagamaan, tetapi juga menjadi momentum untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan serta mengurangi timbulan sampah di Jakarta,” tutur Dudi.
