BANTUL – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengungkap adanya dugaan peracik narkoba jenis tembakau sintetis di Banjardadap, Banguntapan, Bantul melalui operasi penyergapan yang dilakukan Sabtu (9/5) malam.
“Kami telah mengamankan seorang laki-laki berinisial MIJS (23) setelah mendapat informasi dari masyarakat sekitar,” kata Kepala BNNP DIY Kombes Faried Zulkarnain di Yogyakarta, Rabu, 20 Mei dilansir ANTARA.
Menurutnya dalam pemeriksaan melalui tes urine kepada pelaku, hasilnya didapatipositif mengandung methamphetamine atau sabu yang mengindikasikan pelaku merupakan pengguna atau pengonsumsi sekaligus peracik narkoba.
“Petugas menemukan indikasi pelaku tidak hanya berperan dalam penyimpanan maupun peredaran, tetapi juga diduga terlibat dalam proses penyiapan atau peracikan tembakau sintetis sebelum diedarkan,” katanya.
Dugaan tersebut, lanjutnya, diperkuat dengan ditemukannya sejumlah peralatan dan bahan pendukung yang mengarah pada aktivitas pelaku dalam mempersiapkan tembakau sintetis sebagai produk siap edar.
“Tembakau sintetis merupakan salah satu bentuk narkotika yang umumnya dibuat melalui pencampuran media tembakau dengan zat kimia sintetis berbahaya,” kata dia.
Ia mengatakan dari hasil penggeledahan ditemukan barang bukti tujuh paket narkotika jenis sabu seberat 3,88 gram, sembilan paket tembakau sintetis seberat 22,16 gram yang dibungkus lakban putih, serta sisa satu linting tembakau sintetis dengan berat 0,26 gram.
“Turut diamankan barang non-narkotika lainnya berupa telepon genggam, timbangan digital, plastik klip, alat suntikan, sedotan plastik, selotip, stiker, serta perlengkapan yang diduga digunakan untuk mendukung aktivitas penyiapan barang siap edar,” kata Faried.
Pelaku, lanjutnya, mengaku memperoleh barang narkotika tersebut dari seseorang berinisial MCL asal Bogor, Jawa Barat yang saling kenal melalui media sosial.
“Modusnya melalui pengiriman paket dengan bus,” katanya.
Pelaku saat ini sudah diamankan di Kantor BNNP DIY untuk menjalani proses pemeriksaan dan pengembangan lanjutan.
Tim penyidik, lanjut Faried, juga terus mendalami kemungkinan keterlibatan jaringan lain dalam perkara ini.
