Wamenpar Ungkap Pariwisata Hadapi Tantangan Lama Tinggal Wisatawan di RI


JAKARTA – Pemerintah menilai, pertumbuhan jumlah wisatawan belum cukup menjadi ukuran keberhasilan sektor pariwisata Indonesia.

Di tengah tekanan geopolitik dan geoekonomi global, pemerintah kini mendorong peningkatan kualitas kunjungan melalui perpanjangan lama tinggal wisatawan serta peningkatan belanja atau spending selama berada di Indonesia.

Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa menyebut, pariwisata Indonesia masih mencatat pertumbuhan dibandingkan 2025.

Namun, lanjutnya, tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan tersebut memberikan dampak ekonomi lebih besar dan dirasakan secara luas oleh masyarakat.

“Pekerjaan kami ini tidak berhenti pada bagaimana mendatangkan wisatawan. Tantangan berikutnya adalah bagaimana meningkatkan lama tinggal wisatawan, bagaimana agar wisatawan ini belanjanya lebih banyak, meningkatkan spending dari wisatawan kami,” ujar Ni Luh dalam acara pembukaan JITEX 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis, 17 September.

Selain lama tinggal dan belanja, pemerintah juga menyoroti pentingnya meningkatkan kualitas pengalaman wisatawan.

Pengalaman yang semakin baik dinilai dapat mendorong wisatawan untuk tinggal lebih lama sekaligus meningkatkan konsumsi mereka terhadap berbagai produk dan jasa pariwisata.

Aspek konektivitas serta keterlibatan pelaku usaha lokal juga menjadi perhatian. Pemerintah ingin manfaat ekonomi dari aktivitas pariwisata tidak hanya terkonsentrasi pada sektor tertentu, tetapi dapat dirasakan secara langsung dan lebih luas oleh masyarakat.

Dalam konteks tersebut, JITEX dinilai memiliki relevansi karena mempertemukan empat elemen dalam satu ekosistem, yakni investasi, perdagangan, pariwisata dan UMKM.

Wisatawan membutuhkan produk dan pengalaman berkualitas, sementara pelaku usaha membutuhkan pasar.

Di sisi lain, UMKM membutuhkan akses kepada pembeli dan distributor, sedangkan investor membutuhkan peluang serta ekosistem usaha yang memiliki prospek.

“JITEX diharapkan menjadi ruang untuk membangun koneksi, menciptakan transaksi, melahirkan komitmen dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan,” katanya.

Jakarta jadi Pengungkit

Jakarta dinilai memiliki posisi strategis untuk mendorong pertumbuhan pariwisata berkualitas karena tidak hanya menjadi pusat pemerintahan dan bisnis, tetapi juga perdagangan, jasa, investasi, pariwisata dan ekonomi kreatif.

Tak hanya itu, Jakarta juga disebut sebagai salah satu dari tiga pintu gerbang utama pariwisata Indonesia, selain Bali dan Batam.

Bali selama ini lebih dikenal sebagai destinasi leisure, sedangkan Jakarta memiliki karakter lebih kuat pada wisata bisnis, MICE, perdagangan dan kegiatan investasi.

Keunggulan lainnya adalah konektivitas Jakarta yang dinilai relatif lengkap. Wisatawan yang tiba melalui bandara dapat melanjutkan perjalanan menggunakan transportasi publik, termasuk MRT dan moda transit lainnya, menuju pusat kota maupun kawasan lain.

Dengan keunggulan tersebut, peningkatan kunjungan wisatawan ke Jakarta dinilai perlu diikuti dengan strategi untuk memperbesar dampak ekonominya.

Artinya, wisatawan tidak hanya datang, tetapi juga tinggal lebih lama, menggunakan lebih banyak produk dan jasa lokal, serta menciptakan transaksi bagi pelaku usaha.

Strategi tersebut pada akhirnya diharapkan membuat pertumbuhan pariwisata tidak berhenti pada angka kunjungan, melainkan mampu menciptakan nilai ekonomi lebih besar dan tersebar hingga ke masyarakat serta UMKM.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *