JAKARTA – Indonesia datang ke Venice Biennale 2026 dengan cerita yang jarang terdengar dalam sejarah dunia. Lewat Paviliun Indonesia bertajuk Printing the Unprinted, para seniman memakai seni grafis untuk membuka kembali ingatan, suara, dan jejak Nusantara yang lama berada di pinggir narasi global.
Paviliun Indonesia hadir dalam Pameran Seni Internasional ke-61 La Biennale di Venesia, Italia. Pameran berlangsung di Scuola Internazionale di Grafica, Cannaregio 1798, Venesia, mulai 9 Mei hingga 22 November 2026. Hari pratinjau digelar pada 7 Mei.
Paviliun ini diselenggarakan Kementerian Kebudayaan RI melalui Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan. Program ini didukung Danantara Indonesia Trust Fund, serta berkolaborasi dengan Scuola Internazionale di Grafica, Negeri Elok, Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya, dan Venice Art Factory.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan, kehadiran Indonesia tahun ini penting karena menjadi partisipasi pertama di bawah Kementerian Kebudayaan yang berdiri sendiri.
“Indonesia hadir bukan hanya untuk memperkenalkan kebudayaan kepada dunia, tetapi juga untuk ikut membentuk percakapan global melalui seni,” ujar Fadli Zon di Venesia, Jumat, 8 Mei.
Paviliun Indonesia dikuratori Aminudin TH Siregar. Ia memilih Scuola Internazionale di Grafica karena ruang itu dekat dengan praktik seni grafis, cetak, dan produksi artistik berbasis proses.
Dengan pendekatan itu, karya tidak hanya dibuat di Indonesia lalu dikirim ke Venesia. Para seniman juga mengembangkan karya melalui residensi, dialog, dan kolaborasi langsung di lokasi pameran.
Printing the Unprinted menghadirkan tujuh seniman lintas generasi, yakni Agus Suwage, Syahrizal Pahlevi, Nurdian Ichsan, R.E. Hartanto, Theresia Agustina Sitompul, Mariam Sofrina, dan Rusyan Yasin.
Pameran ini berangkat dari narasi fiksi tentang pelayaran besar abad ke-15 yang terinspirasi manuskrip imajiner Datu Na Tolu Hamonangan dari Harajaon Pusuk Buhit di Sumatra.
Dari narasi itu, para seniman membuka tafsir baru tentang hubungan Asia dan Eropa. Mereka juga mempertanyakan sejarah global yang kerap dibangun lewat kisah kedatangan, penemuan, dan klaim.
Fadli menyebut Indonesia memiliki modal budaya besar. Ia merujuk lebih dari 17.000 pulau, 1.340 kelompok etnis, dan 718 bahasa daerah sebagai dasar ekosistem budaya Indonesia.
Selain pameran utama, Paviliun Indonesia juga menggelar residensi seniman, diskusi seni, lokakarya, dan simposium. Program ini melibatkan tujuh talenta muda Indonesia melalui Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya bersama Negeri Elok.
Kolaborasi itu memakai pendekatan art therapy. Seni ditempatkan sebagai ruang untuk merawat memori, membangun empati, dan memperkuat ketahanan personal maupun kolektif.
“Budaya adalah sumber identitas, nilai, dan imajinasi, sementara ekonomi kreatif menjadi kekuatan yang mengubah budaya menjadi inovasi, peluang, dan pengaruh global,” kata Fadli.
