Psikolog Ingatkan Pola Asuh Turun-Temurun Tak Selalu Cocok untuk Anak


JAKARTA – Kebiasaan mengasuh anak yang diwariskan dari generasi ke generasi tidak selalu aman untuk diterapkan begitu saja. Orang tua diminta melihat usia, kondisi, dan kebutuhan masing-masing anak, serta mempertimbangkan bukti ilmiah terbaru.

Guru Besar Tetap Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim mengatakan pengetahuan mengenai tumbuh kembang anak terus berkembang. Cara yang dahulu dianggap baik belum tentu sesuai untuk anak saat ini.

“Jadi kita harusnya menggunakan cara yang terbaik untuk anak berdasarkan apa penelitian, fakta dan sebagainya. Jangan yang dibawa turun-temurun, karena untuk satu orang belum tentu cocok untuk anak yang lain,” kata Rose saat dihubungi dari Jakarta, dikutip dari Antara, Rabu, 14 Oktober.

Ia mencontohkan pemberian telur mentah atau makanan padat kepada bayi yang belum siap menerimanya. Praktik seperti itu dapat membawa risiko kesehatan bila tidak sesuai dengan usia dan kondisi bayi.

Menurut Rose, orang tua perlu memahami tahapan tumbuh kembang anak, termasuk kesiapan menerima makanan.

Jika masih ragu mengenai makanan atau kebutuhan nutrisi bayi, orang tua disarankan berkonsultasi dengan dokter anak maupun ahli gizi.

Rose menekankan tidak ada satu pola pengasuhan yang dapat diterapkan persis sama kepada semua keluarga. Setiap anak mempunyai kebutuhan dan kondisi berbeda.

“Tidak ada teori yang bisa dipakai langsung plek-plek kepada keluarga kita. Kadang-kadang harus dimodifikasi,” ujarnya.

Pengalaman orang tua maupun kakek-nenek, kata Rose, tetap bisa menjadi pertimbangan. Namun, praktik tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi anak dan informasi kesehatan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Perhatian terhadap keamanan makanan bayi menguat setelah pemberitaan mengenai seorang bayi di Surabaya yang dilaporkan meninggal setelah diduga diberi telur mentah oleh anggota keluarganya.

Ikatan Dokter Anak Indonesia atau IDAI sebelumnya menegaskan telur mentah maupun setengah matang tidak dianjurkan diberikan kepada bayi dan anak karena memiliki risiko keamanan pangan, termasuk kemungkinan terkontaminasi bakteri Salmonella.

Karena itu, keputusan sederhana di rumah, termasuk soal makanan, tetap perlu mempertimbangkan tahap perkembangan dan kondisi masing-masing anak.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *