Wamenko Dradjad Optimistis Ekonomi Indonesia Bisa Tumbuh di Atas 6 Persen pada 2027


JAKARTA – Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Wibowo menilai target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6 persen pada 2027 sangat realistis untuk dicapai.

Dia menambahkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai pertumbuhan ekonomi di sejumlah daerah, capaian tersebut berpotensi melampaui target yang telah ditetapkan pemerintah.

Dradjad mengatakan, pertumbuhan ekonomi daerah mampu mencatatkan pertumbuhan di atas 6 persen yang didukung oleh berbagai aktivitas ekonomi, termasuk sektor industri pengolahan dan peningkatan produktivitas pertanian.

Menurutnya, keberhasilan sejumlah daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dapat menjadi contoh bagi wilayah lain dan Pemerintah akan mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung pertumbuhan tersebut agar dapat diterapkan di daerah lain dengan menyesuaikan potensi masing-masing.

“Jadi banyak (daerah) yang sudah tumbuh di atas 6 persen. Jadi insyaallah kalau ini bisa kita replikasi dan insyaallah bisa,” ujarnya dalam Konferensi Pers, Senin, 12 Oktober.

Dradjad mencontohkan seperti Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, yang mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi tinggi melalui pengembangan sektor pertanian, khususnya pengolahan padi.

Dia menilai, apabila strategi yang berhasil diterapkan di daerah tersebut dapat direplikasi secara lebih luas, peluang Indonesia untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2027 akan semakin terbuka.

“Target pertumbuhan ekonomi 2027 (sebesar) 6 persen itu Insyaallah amat sangat visible, amat sangat bisa dicapai. Amat sangat bisa dicapai dan rasanya kalau lihat data BPS, itu rasanya malah mungkin bisa lebih tinggi dari 6 persen,” jelasnya.

Menurutnya, apabila momentum pertumbuhan di berbagai daerah dapat dipertahankan dan diperkuat, target Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen juga berpotensi direalisasikan.

Dradjad juga menyoroti peran sektor industri pengolahan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yaitu berdasarkan pemaparan BPS, wilayah yang memiliki basis industri pengolahan kuat dan didukung kawasan industri yang berkembang cenderung mencatatkan pertumbuhan di atas rata-rata nasional.

“Jadi daerah-daerah yang basis industri pengolahannya kuat, kawasan industrinya bagus, itu tumbuhnya sangat-sangat bagus sehingga ini juga menjadi basis bagi Kemenko Perekonomian untuk perumusan kebijakan-kebijakan ke depan,” katanya.

Sementara itu, Kepala BPS Amalia Adhininggar Widyasanti mengungkapkan, terdapat 99 kabupaten dan kota di Indonesia yang mencatatkan pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen selama semester I 2026.

Dia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi nasional merupakan akumulasi dari kinerja perekonomian daerah dan pertumbuhan ekonomi provinsi terbentuk dari kontribusi kabupaten dan kota di wilayahnya, sehingga penguatan ekonomi daerah menjadi salah satu faktor penting untuk mendorong pertumbuhan nasional.

“Tadi kami menyampaikan juga bahwa kami tunjukkan ada kawasan dan kota yang sudah tumbuh di atas bahkan di atas 8 persen,” tegasnya.

Amalia menyebutkan beberapa wilayah memperoleh dorongan dari aktivitas industri manufaktur, sementara daerah lainnya ditopang oleh pengembangan kawasan ekonomi khusus (KEK) dan sektor-sektor produktif lainnya.

“Ada Kendal karena dia memang ditopang oleh industri manufakturnya yang bergerak. Kemudian ada Batang yang juga tumbuh di atas 8 persen karena ada KEK Batang. Kemudian bahkan ada Gorontalo juga yang bisa tumbuh di atas rata-rata ekonomi nasional,” tuturnya.

Dia menambahkan, pertumbuhan tinggi tidak hanya terjadi di daerah yang mengandalkan pertambangan salah satunya Kabupaten Sidrap menjadi salah satu contoh wilayah yang mampu mencatatkan pertumbuhan mendekati 7 persen melalui peningkatan produktivitas pertanian dan masuknya investasi yang mendorong perkembangan industri pengolahan.

Menurut Amalia, keberhasilan daerah dalam mengembangkan sektor unggulan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat didorong melalui optimalisasi potensi lokal dan peningkatan nilai tambah produksi.

Di sisi lain, BPS melihat perlunya penguatan ekonomi di sejumlah wilayah yang pertumbuhannya masih berada di bawah rata-rata nasional.

Amalia mengatakan, secara umum seluruh provinsi di Pulau Jawa telah mencatatkan pertumbuhan di atas rata-rata nasional, sementara beberapa provinsi di wilayah lain masih memerlukan dorongan tambahan.

“Beberapa provinsi juga, namun beberapa provinsi masih tumbuh di bawah rata-rata nasional. Ini yang harus didorong,” katanya.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *