JAKARTA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan Rusia akan segera memasok lebih dari 300.000 ton bahan bakar diesel ke pasar AS dan global setelah pembicaraan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Trump mengklaim tambahan pasokan itu akan membantu menurunkan harga diesel.
Menurut Anadolu Agency, dikutip Senin, 12 Oktober, Trump menyampaikan kesepakatan tersebut melalui platform Truth Social pada Jumat. Ia menyebut pembicaraannya dengan Putin “sangat sukses”.
“Saya baru saja menyelesaikan pembicaraan yang sangat sukses dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Dalam pembicaraan itu disepakati bahwa Rusia akan segera memasok lebih dari 300.000 ton bahan bakar diesel ke pasar Amerika dan global, kemudian 500.000 ton lagi selama November, dan 1.000.000 ton segera setelah itu,” kata Trump.
Ia menambahkan, Rusia juga akan mengirim 3 juta ton diesel dalam waktu singkat. Namun, jumlah itu bergantung pada kondisi kilang diesel Rusia.
Trump mengklaim tambahan pasokan tersebut akan membuat harga diesel turun di AS dan pasar dunia.
“Harga diesel bagi warga Amerika dan, bahkan, dunia akan turun dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan dengan cepat!” ujarnya.
Harga bahan bakar menjadi salah satu perhatian Trump, terutama bagi petani, peternak, dan pengemudi truk di AS. Isu itu juga mengemuka menjelang pemilu sela Kongres AS pada 3 November karena kenaikan biaya energi ikut menekan perekonomian.
Trump kemudian mengatakan kepada wartawan bahwa dirinya “sangat senang” dengan kesepakatan tersebut.
“Kami membutuhkan harga minyak turun… dan sekarang sudah turun drastis,” katanya.
Tak lama setelah pengumuman Trump, Departemen Keuangan AS mengatakan Kantor Pengawasan Aset Asing atau OFAC segera menerbitkan izin umum sementara untuk memungkinkan pasokan diesel Rusia ke pasar global.
Departemen Keuangan kemudian menerbitkan izin yang mengizinkan transaksi terkait penjualan, pengiriman, pembongkaran, dan impor diesel asal Rusia hingga 7 April tahun depan.
Trump juga menyinggung apa yang ia sebut sebagai “kendali penuh” AS atas Selat Hormuz dan kembali menegaskan Iran tidak akan diizinkan mengembangkan senjata nuklir.
Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari. Iran membalas dengan serangan rudal dan drone di kawasan serta secara efektif menutup Selat Hormuz.
Konflik yang telah berlangsung lebih dari tujuh bulan itu mendorong harga energi global naik karena lalu lintas komersial minyak melalui jalur strategis tersebut praktis terhenti.
AS dan Iran sempat menandatangani kesepakatan kerangka pada Juni setelah mediasi Pakistan dan Qatar untuk menghentikan permusuhan dan membuka jalan bagi perundingan. Namun, pelaksanaannya terhenti akibat sejumlah perbedaan, termasuk soal keamanan dan navigasi di Selat Hormuz.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
