JAKARTA – Kementerian Keuangan mencatat realisasi belanja bantuan sosial mencapai Rp115,8 triliun hingga 30 September 2026. Nilai itu setara 71,2 persen dari pagu APBN dan naik 2,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan realisasi tersebut mencakup seluruh program bansos reguler yang berjalan.
“Belanja bantuan sosial Rp115,8 triliun, 71,2 persen dari pagu APBN, termasuk untuk seluruh bansos reguler yang berjalan,” kata Suahasil dalam konferensi pers APBN KiTa di Kementerian Keuangan, Jakarta, dikutip dari Antara, Jumat, 9 Oktober.
Kenaikan belanja bansos terutama didorong penyaluran Program Indonesia Pintar dan Kartu Indonesia Pintar Kuliah untuk semester II 2026.
Dari total realisasi itu, Program Keluarga Harapan menyerap Rp21,8 triliun. Dana tersebut disalurkan kepada 10 juta keluarga penerima manfaat untuk membantu kebutuhan dasar.
Program Kartu Sembako mencapai Rp28,2 triliun dan diberikan kepada 17,6 juta keluarga penerima manfaat guna membantu kebutuhan pangan.
Di sektor pendidikan, pemerintah menyalurkan Program Indonesia Pintar sebesar Rp11,1 triliun kepada 16 juta siswa dari keluarga miskin dan rentan.
Sementara KIP Kuliah mencapai Rp14,4 triliun untuk 878 ribu mahasiswa dari keluarga miskin dan rentan.
Di sektor kesehatan, pemerintah merealisasikan bantuan iuran Jaminan Kesehatan Nasional sebesar Rp34,7 triliun untuk 96,7 juta peserta Penerima Bantuan Iuran atau PBI JKN.
PBI JKN merupakan peserta Jaminan Kesehatan Nasional yang iurannya dibayarkan pemerintah karena memenuhi kriteria penerima bantuan.
Selain program perlindungan sosial reguler, pemerintah juga telah merealisasikan Rp5,6 triliun untuk asistensi, rehabilitasi, dan penanggulangan bencana.
Secara keseluruhan, realisasi bansos hingga September 2026 naik dari Rp112,7 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya menjadi Rp115,8 triliun.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
