Tesla Minta Persetujuan FSD di Eropa, Regulator Belanda Disebut Beri Sejumlah Kelonggaran


JAKARTA – Tesla disebut menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mendorong regulator kendaraan Belanda, RDW, agar mengurangi cakupan peninjauan sistem Full Self-Driving (Supervised). Upaya tersebut termasuk mempersoalkan tagihan senilai 365.000 euro atau sekitar Rp7,34 miliar, berdasarkan kurs 8 Oktober 2026 .

RDW kemudian menyetujui sistem tersebut dan kini meminta Uni Eropa melakukan hal serupa. Persetujuan dari Belanda menjadi dasar penting bagi upaya Tesla memperluas penggunaan FSD di Eropa.

Saat ini, delapan negara Uni Eropa disebut telah mengizinkan sistem tersebut. Pemungutan suara di tingkat Uni Eropa dapat berlangsung paling cepat pada Desember.

Korespondensi antara Tesla dan regulator di tujuh negara Eropa menjadi bagian dari investigasi Reuters yang diterbitkan pada 7 Oktober 2026. Dokumen tersebut diperoleh melalui permintaan berdasarkan aturan keterbukaan informasi publik.

Pertukaran email antara Tesla dan RDW di Belanda menjadi salah satu bagian yang paling menonjol. Pada November 2024, seorang staf Tesla mengatakan kepada RDW bahwa dimulainya pengujian kendaraan sebelum akhir bulan tersebut merupakan hal yang “mission critical for our leadership”. Staf tersebut juga mengatakan pimpinan Tesla akan “measure the goodwill” regulator berdasarkan apakah target tersebut tercapai.

Persoalan biaya kemudian muncul. Aturan Eropa mengharuskan produsen kendaraan menanggung biaya regulator untuk proses peninjauan tersebut, berbeda dengan praktik di Amerika Serikat.

Pada April 2025, Tesla menyebut tagihan RDW sebesar 365.000 euro untuk pekerjaan selama lima bulan sebagai biaya yang “extremely high cost”. Tesla mengatakan akan menahan pembayaran sampai memperoleh rincian per jam mengenai pekerjaan setiap pegawai RDW yang terlibat dalam proyek tersebut.

Tesla juga mempersoalkan biaya kunjungan lima pegawai RDW ke Giga Berlin. Sepekan setelah keluhan mengenai tagihan itu, seorang staf RDW mengundang Tesla untuk memberikan saran mengenai bagaimana regulator tersebut “might adjust or reduce the required effort moving forward.”

Dalam dokumen tersebut, Tesla juga berusaha mengurangi keterlibatan langsung RDW dalam sejumlah pengujian. Tesla berargumen bahwa laporan pengujian yang dibuat sendiri seharusnya sudah cukup sehingga inspektur RDW tidak perlu datang untuk menyaksikan pengujian. RDW kemudian menawarkan pemantauan sebagian pengujian secara jarak jauh.

Tesla juga menolak sebuah pertemuan mengenai pembaruan perangkat lunak melalui udara atau over-the-air (OTA). Sebagai tanggapan, seorang staf RDW mengatakan pihaknya tidak ingin “dive too deep in technical details” dan tidak “question the quality and process for OTA’s.”

Dalam pertukaran lainnya, Tesla meminta pemberitahuan terlebih dahulu mengenai pengujian yang akan dilakukan RDW terhadap kendaraannya serta nama pengemudi keselamatan yang akan terlibat. RDW menyetujuinya dan menekankan adanya “shared goals and objectives” dengan Tesla.

RDW mengatakan kepada Reuters bahwa interaksinya dengan produsen kendaraan “does not compromise the independence or thoroughness of our assessment.” Namun, regulator tersebut menyunting sebagian besar isi email yang diminta dan masih belum mempublikasikan data pengujiannya terhadap FSD dengan alasan perlindungan rahasia dagang Tesla.

Persoalan data keselamatan juga menjadi sorotan dalam upaya Tesla mendapatkan persetujuan FSD di Eropa. Pada April, Tesla membagikan sebuah “evidence dashboard” kepada negara-negara anggota Uni Eropa. Tesla kemudian mempublikasikan penelitian Eropanya melalui X dan menyebutnya sebagai “one of the key pieces of evidence” di balik persetujuan dari Belanda.

Namun, tujuh peneliti keselamatan lalu lintas yang meninjau metodologi penelitian tersebut untuk Reuters menilai sampel FSD terlalu kecil untuk dibandingkan dengan data berkendara manual Tesla di Eropa.

Pengujian FSD mencakup puluhan hingga ratusan ribu mil perjalanan, sementara data berkendara manual mencakup ratusan juta mil. Selain itu, penelitian Tesla tidak menggunakan kecelakaan sebagai ukuran utama. Tesla menggunakan sejumlah indikator pengganti, antara lain penggunaan klakson, lampu sein, pengereman keras, dan manuver menikung tajam.

Kendaraan yang digunakan dalam penelitian tersebut juga dikemudikan oleh pengemudi profesional Tesla untuk pengujian, bukan pemilik kendaraan biasa.

Dokumen Tesla sendiri menyatakan perbandingan tersebut tidak dapat dibaca sebagai “causal estimates”. Dengan demikian, penelitian tersebut tidak menunjukkan bahwa FSD mencegah kecelakaan atau kematian akibat kecelakaan.

Meski demikian, Tesla menyampaikan klaim yang lebih luas kepada publik. Saat mempublikasikan penelitian tersebut, Tesla mengatakan rata-rata 53 orang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas di Eropa setiap hari dan menyebut sebagian besar kematian tersebut “largely preventable with technology we have today”. Tesla juga mengatakan manfaat teknologi tersebut “remains locked behind bureaucracy.”

Pada Juli, ketika Menteri Transportasi Prancis, Philippe Tabarot, mengatakan Prancis belum dapat mendukung FSD, Elon Musk membalas bahwa “delaying the approval of FSD in France will cost lives.”

“Ketika Anda mulai berbicara mengenai ‘lives saved’, di situlah hal tersebut menjadi tidak masuk akal,” kata Marco Benedetti, mantan ahli statistik National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) yang kini bekerja di University of Michigan Transportation Research Institute, kepada Reuters.

Klaim mengenai keselamatan FSD juga bukan hal baru. Di Amerika Serikat, Tesla sebelumnya membandingkan kecelakaan dengan aktivasi kantong udara saat menggunakan FSD dengan seluruh kecelakaan dalam data federal yang mengharuskan kendaraan diderek. Tesla sempat menyimpulkan FSD 10 kali lebih aman dibandingkan pengemudi manusia, sebelum kemudian merevisi klaim tersebut menjadi tujuh kali lebih aman.

Menurut Reuters, Tesla juga mengirimkan penelitian Amerika Serikat tersebut kepada regulator Eropa.

Upaya mendapatkan persetujuan FSD turut melibatkan pemilik Tesla. Musk sebelumnya meminta pelanggan di Eropa memberikan tekanan kepada regulator agar menyetujui FSD. Dalam rapat pemegang saham tahun lalu, Musk mengatakan “pressure from our customers in Europe to push the regulators to approve would be appreciated.”

Sebuah akun Tesla di X kemudian mengarahkan pemilik kendaraan untuk menggunakan formulir kontak RDW. Permintaan informasi publik menunjukkan pemilik Tesla mengirimkan puluhan email kepada regulator di Swedia dan Norwegia. Sejumlah pesan tersebut mengulang klaim mengenai potensi penyelamatan nyawa.

Akun X milik Tabarot juga dipenuhi unggahan yang secara pribadi menyalahkannya atas kematian di jalan raya.

Stein-Helge Mundal dari Norwegia sebelumnya memperingatkan regulator negara-negara Nordik bahwa mereka “need to use a lot of effort to answer misled consumers.”

“Kami tidak menyetujui sistem karena sistem tersebut populer, dan kami tidak menolaknya karena sistem tersebut kontroversial,” kata Mundal dikutip VOI dari Reuters.

Tekanan tersebut juga terlihat dalam perkembangan di Prancis. Dua bulan setelah menyatakan belum dapat mendukung FSD, Tabarot pada September mengunggah foto panggilan video dengan Musk. Ia menyebut pembicaraan tersebut sebagai “constructive exchange” dan mengatakan kedua pihak “working closely” untuk melakukan perubahan “that will enable France to support its approval.”

Di tingkat Uni Eropa, Technical Committee on Motor Vehicles tidak melakukan pemungutan suara mengenai FSD pada 6 Oktober, meskipun Tesla sebelumnya menunjuk tanggal tersebut sebagai jadwal yang diharapkan.

Persetujuan di tingkat Uni Eropa membutuhkan dukungan sedikitnya 15 dari 27 negara anggota yang secara keseluruhan mewakili 65 persen populasi Uni Eropa.

Kroasia kemudian menjadi negara kedelapan yang mengizinkan FSD, setelah Belanda, Lithuania, Denmark, Belgia, Estonia, Slovenia, dan Ceko. Namun, sebagian besar negara yang telah memberikan izin tersebut merupakan pasar dengan jumlah penduduk relatif kecil.

Jerman, Italia, dan Spanyol masih belum memberikan persetujuan. Swedia juga menginginkan Uni Eropa menolak FSD apabila Tesla tidak menghapus kemampuan sistem untuk menetapkan kecepatan di atas batas yang berlaku.

Peran RDW dalam proses tersebut menjadi sorotan karena regulator itu sebelumnya secara terbuka mengoreksi Tesla. Pada 2025, RDW membantah klaim Tesla bahwa regulator tersebut telah “committed” untuk memberikan persetujuan pada Februari 2026 dan menegaskan bahwa keselamatan jalan raya merupakan prioritas utama.

Sementara itu, dokumen korespondensi yang diperoleh Reuters menunjukkan bahwa di balik proses tersebut RDW sempat menawarkan pengurangan upaya peninjauan setelah Tesla mempersoalkan tagihan sebesar 365.000 euro, yang berdasarkan kurs 8 Oktober 2026 setara sekitar Rp7,34 miliar.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *