Kyoto, Jepang – Indonesia menjadi salah satu dari 17 negara yang mengesahkan Kyoto Vision for a Golden Age of Science pada Minggu, 4 Oktober di 23rd Annual Meeting of the Science and Technology in Society (STS) Forum di Kyoto, Jepang yang berlangsung 4 hingga 6 Oktober.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Arif Satria yang hadir dalam forum global tersebut mengatakan, selain Indonesia, 16 negara lainnya juga ikut mengesahkan visi bersama tersebut.
Negara tersebut adalah Amerika Serikat, Argentina, Bulgaria, Cile, Siprus, Jerman, Yunani, Italia, Jepang, Kazahstan, Republik Korea, Selandia Baru, Polandia, Singapura, Uni Emirat Arab, dan Britania Raya.
“Kyoto Vision mendorong perluasan akses peneliti terhadap AI untuk sains, data ilmiah, infrastruktur komputasi, dan fasilitas eksperimental. Visi tersebut juga mendorong pembaruan cara pendanaan dan pengorganisasian riset,” kata Arif Satria melalui keterangan tertulisnya yang diterima VOI, Selasa, 6 Oktober.
Lebih lanjut Arif Satria mengatakan partisipasi Indonesia dalam peluncuran Kyoto Vision memperkuat posisi Indonesia dalam perumusan sains dan teknologi global di masa depan.
Menurut Arif Satria, pemanfaatan teknologi maju memang diperlukan perluasan akses.
“Indonesia memandang pemanfaatan teknologi maju bagi penemuan ilmiah perlu disertai perluasan akses, penguatan kapasitas nasional, kerja sama internasional yang setara, dan tata kelola yang memastikan manfaat kemajuan teknologi dapat dirasakan secara luas,” kata Arif.
Capaian puncak dari STS Forum 2026 adalah dihasilkannya Chairman’s Statement yang mencakup perlu terbangunnya prinsip saling percaya (trust) dan kerja sama, tata kelola dan transformasi, inovasi untuk kemanusiaan, serta keberlanjutan masa depan.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
