JAKARTA – Perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian global yaitu pada Semester I-2026, ekonomi nasional tumbuh 5,45 persen secara tahunan, dengan industri pengolahan tetap menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dengan porsi 18,50 persen.
Sementara itu, industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32 persen dan berkontribusi 16,83 persen terhadap PDB nasional.
Penguatan sektor manufaktur juga tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang pada September 2026 naik menjadi 52,4 dari 49,8 pada Agustus 2026, sehingga kembali berada di zona ekspansi.
Dari sisi fiskal, Indonesia juga mempertahankan posisi yang relatif prudent yaitu defisit anggaran dijaga di bawah 3 persen terhadap PDB, sedangkan rasio utang pemerintah berada sekitar 41 persen terhadap PDB dan kondisi tersebut menunjukkan fundamental dan ruang fiskal Indonesia yang relatif terjaga di tengah dinamika ekonomi global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, penguatan industri dan peningkatan nilai tambah sumber daya alam menjadi salah satu kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kita melihat bahwa peran daripada pengembangan industri ataupun ekonomi selanjutnya itu menjadi kunci karena kita sedang mendorong bahwa nilai tambah daripada sumber daya alam itu menjadi penting, dan sumber daya alam itu ada dua jenis, satu yang renewable dan yang kedua yang non-renewable,” tuturnya dalam acara BIG Downstream Insights 2026, Selasa, 6 Oktober.
Menurutnya, agenda hilirisasi perlu diperluas karena tidak hanya mencakup sektor mineral dan batu bara, tetapi juga komoditas pertanian, perkebunan, kehutanan, serta perikanan dan kelautan.
Dia menambahkan komoditas seperti kelapa sawit, karet, kelapa, dan produk perikanan memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah dan berorientasi ekspor.
Airlangga menegaskan, hilirisasi merupakan bagian dari industrialisasi dan perlu berjalan beriringan dengan pengembangan sektor manufaktur lainnya.
“Saya juga memberikan catatan bahwa hilirisasi tidak sama dengan industrialisasi. Hilirisasi salah satu daripada industri dan berbagai manufaktur lain yang didorong adalah tentunya seperti sektor otomotif, sektor tekstil, produk tekstil, sektor fast moving consumer goods, kemudian sektor strategis lain. Nah itu juga banyak yang perlu kita dorong agar kontribusi industri terhadap GDP itu bisa lebih tinggi dari 20 persen,” tegasnya.
Dalam roadmap hilirisasi 28 komoditas, pemerintah memproyeksikan potensi investasi mencapai 618,1 miliar dolar AS, dengan potensi ekspor sebesar 857,6 miliar dolar AS dan nilai tambah sekitar 235,9 miliar dolar AS, dengan tambahan nilai tersebut, total ekspor dari program hilirisasi diperkirakan dapat mendekati 500 miliar dolar AS
Menurut Airlangga, penguatan hilirisasi memiliki potensi besar untuk meningkatkan kapasitas ekspor Indonesia dan hal tersebut tercermin dari ekspor produk berbasis nikel yang meningkat dari sekitar 1,3 miliar dolar AS pada 2016 menjadi 34 miliar dolar AS pada 2025.
Selain itu, hilirisasi juga dinilai dapat mendorong pemerataan pertumbuhan ekonomi antardaerah yaitu pada Semester I-2026, sekitar 75,7 persen investasi hilirisasi tercatat berada di luar Pulau Jawa, dan kondisi tersebut menunjukkan munculnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru yang berbasis pada potensi sumber daya alam di berbagai daerah.
Lebih lanjut, Airlangga mendorong percepatan transformasi menuju industri bernilai tambah tinggi melalui penguatan agroindustri dan manufaktur, serta pengembangan digitalisasi, semikonduktor, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), dan sektor jasa.
Ketersediaan energi yang kompetitif dan semakin ramah lingkungan juga menjadi faktor penting untuk menjaga daya saing industri Indonesia di pasar global. Sementara itu, pemanfaatan teknologi seperti machine learning, Internet of Things (IoT), dan otomasi terus didorong untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas industri.
Perkembangan AI, lanjut Airlangga, turut membuka peluang pengembangan industri baru, termasuk data center dan Indonesia memiliki sejumlah keunggulan untuk mengembangkan sektor tersebut, mulai dari ketersediaan lahan, energi, air, hingga besarnya pasar domestik.
Pengembangan ekonomi digital juga perlu diiringi dengan ketersediaan data yang berkualitas dan penguatan sumber daya manusia yaitu melalui ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA), ekonomi digital kawasan diperkirakan meningkat dari sekitar 1 triliun dolar AS menjadi 2 triliun dolar AS.
Dengan porsi sekitar 40 persen terhadap ekonomi ASEAN, Indonesia memiliki peluang besar menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi digital kawasan dan untuk mendukung transformasi tersebut, pemerintah terus memperkuat program vokasi dan kolaborasi dengan dunia usaha, termasuk dalam pengembangan talenta AI dan semikonduktor.
Sekitar 15.000 talenta ditargetkan dapat dikembangkan dalam tiga tahun ke depan sebagai bagian dari persiapan sumber daya manusia menghadapi kebutuhan industri masa depan.
Airlangga menjelaskan transformasi ekonomi Indonesia perlu dilanjutkan dari sektor pertanian menuju industri, kemudian berkembang ke arah digitalisasi dan jasa bernilai tambah tinggi.
Menurutnya, kombinasi hilirisasi, industrialisasi, energi hijau, dan digitalisasi menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas serta daya saing nasional dan strategi tersebut sekaligus membuka peluang bagi Indonesia untuk mencapai pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen.
“Jadi inilah kesempatan-kesempatan yang terus didorong. Pemerintah terus memperkuat koordinasi lintas sektor dan mengajak dunia usaha untuk bersama-sama membangun kesempatan yang ada,” pungkas Airlangga.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
