Alice Cooper Beber Rahasia Karakter Panggung dan Alasan Masih Tampil Gila-gilaan di Usia 78 Tahun


JAKARTA – Alice Cooper kembali bercerita soal sosok panggung yang membuatnya jadi legenda rock. Dalam wawancara versi panjang bersama Anthony Mason di CBS Mornings, pria bernama asli Vincent Damon Furnier itu membahas bagaimana karakter Alice lahir dan berkembang. Kisah ini juga ia tuangkan dalam otobiografi barunya, Devil On My Shoulder.

Menurut Alice, karakter tersebut pada dasarnya adalah rockstar idamannya sendiri, mulai dari tampilan, cara bernyanyi, sampai tema lagunya. Ia membayangkan sosok bertopi tinggi dan bertongkat yang bersikap arogan dan merendahkan penonton. Karena itulah Alice nyaris tidak pernah berbicara kepada penonton di atas panggung. Begitu bicara, katanya, ia akan terlihat seperti manusia biasa, padahal orang ingin melihat sesuatu yang berbeda dari Jon Bon Jovi atau Paul McCartney.

Soal pertunjukan live, Alice mengenang masa awal ketika band belum punya dana untuk properti. Sebuah gagang pel yang ditemukan di belakang panggung bisa jadi apa saja, mulai dari perempuan, tunggangan, hingga senjata. Dari situ mereka belajar teater gerilya, sebelum produksinya makin megah seiring bertambahnya penghasilan. Ia juga menyebut pertunjukan komedi Hellzapoppin’ sebagai “kitab suci” mereka, lalu menambahkan unsur horor dan adegan hukuman gantung yang dibuat sangat meyakinkan.

Kemarahan para orang tua justru jadi bahan bakar. Alice mengatakan semakin orang dewasa membenci aksinya, semakin anak-anak muda menyukainya. Strategi itu terbukti jitu dan membawa Alice Cooper jadi salah satu nama paling berpengaruh dalam sejarah rock.

Di usia yang kini mendekati 80 tahun, Alice mengaku motivasinya banyak datang dari rasa takut. Berdiri di depan 20.000 penonton, ia merasa harus memberikan yang terbaik. Ia tahu orang datang dengan membayangkan pria tua yang mungkin lebih banyak duduk selama pertunjukan, lalu ia membuktikan sebaliknya dengan bergerak di seluruh penjuru panggung. Ia mengaku selalu merasa harus membuktikan diri, dan tidak pernah tampil setengah hati.

Alice bahkan sudah punya prinsip soal masa depan karakternya. Ketika suatu saat sudah tak bisa tampil maksimal, ia akan menunjuk orang untuk memerankan sosok Alice. Calico, putri sang musisi, disebut sebagai salah satu kandidatnya.

Namun ia menegaskan tidak berencana menjual hak kekayaan intelektual Alice Cooper seperti yang dilakukan KISS beberapa tahun lalu. Alasannya cukup sederhana, bahwa ia mengaku tak butuh uang itu.

Alice melihat KISS sebagai teman dekat, begitu juga dengan David Bowie. Ia menepis tudingan bermusuhan dengan keduanya.

Menurutnya, Bowie justru terinspirasi oleh band yang bisa menggabungkan teatrikal ekstrem dengan lagu-lagu hit, sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Bowie, kata Alice, bahkan sempat mengajak The Spiders from Mars menonton penampilan Alice sebelum membawa idenya ke “luar angkasa” lewat karakternya sendiri.

Devil On My Shoulder dijadwalkan terbit di Amerika Serikat pada 6 Oktober lewat label Da Capo di bawah Grand Central Publishing. Alice sendiri sudah menjual lebih dari 50 juta album, masuk Rock and Roll Hall of Fame pada 2011, dan lewat lagu seperti “School’s Out”, “No More Mr. Nice Guy”, dan “Poison” tetap menjadi ikon yang tak lekang oleh waktu.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *