Energi Hijau dan Digital Jadi Mesin Ganda Ekonomi, Investasi 2027 Harus Tembus Rp2.218 Triliun


JAKARTA – Pemerintah menempatkan transisi energi hijau dan pembangunan digital sebagai dua mesin utama pertumbuhan ekonomi. Keduanya dinilai penting untuk mengejar target pertumbuhan 6 persen pada 2027.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan kebutuhan investasi nasional pada 2027 diperkirakan mencapai Rp2.218 triliun hingga Rp2.258 triliun. Agar target pertumbuhan tercapai, investasi perlu tumbuh 8–9 persen.

“Pemerintah berkomitmen mengorkestrasikan transisi energi dan pembangunan digital sebagai twin engine penggerak pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” kata Haryo, dikutip dari Antara, Senin, 5 Oktober.

Menurut Haryo, ketersediaan energi bersih dan percepatan pembangunan infrastruktur digital menjadi dua kebutuhan yang harus berjalan bersama. Energi dibutuhkan untuk menopang industri, sementara infrastruktur digital menjadi salah satu penopang investasi baru.

Kebutuhan listrik Indonesia diproyeksikan mencapai 700–800 terawatt-hour pada 2030. Pemerintah juga mengarahkan peningkatan kapasitas pembangkit hingga 100 gigawatt peak berbasis energi terbarukan.

Transisi energi akan ditopang pembangunan jaringan transmisi sepanjang 47.758 kilometer-sirkuit. Infrastruktur itu disiapkan untuk menjaga pasokan listrik bagi industri dan pusat data.

Di sisi lain, program Listrik Desa telah menjangkau 1.505 lokasi pada 2025 dan ditargetkan mencakup 4.390 lokasi pada 2026. Pemerintah menargetkan rasio elektrifikasi mendekati lebih dari 99 persen, sementara indeks ketahanan energi diproyeksikan naik menjadi 7,13.

Pemerintah juga mengandalkan kekayaan mineral seperti nikel, timah, bauksit, tembaga, emas, dan batu bara untuk memperkuat ekonomi hijau. Hilirisasi berbasis energi bersih diproyeksikan mendorong nilai tambah, termasuk pada ekosistem kendaraan listrik.

Haryo menyebut pengembangan kendaraan listrik berpotensi menciptakan nilai tambah hingga 67 kali lipat, dengan permintaan global yang diperkirakan mencapai 5,91 triliun dolar AS pada 2045.

Indonesia juga dinilai memiliki posisi strategis karena memiliki mineral kritis dan bahan baku panel surya seperti pasir silika. Potensi itu disebut telah menarik minat kemitraan dari Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Kanada dalam pengembangan teknologi transisi energi serta diversifikasi rantai pasok mineral kritis.

Dari sisi pembiayaan, pemerintah mendorong pemanfaatan green bonds, blended finance, Just Energy Transition Partnership, dan Asia Zero Emission Community. Skema tersebut akan diselaraskan dengan program magang lulusan perguruan tinggi dan pelatihan vokasi untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja industri hijau.

“Optimalisasi potensi energi hijau dan digitalisasi secara terpadu merupakan golden moment bagi Indonesia untuk menegaskan posisinya sebagai tuan rumah energi dan pemain utama transisi energi global,” kata Haryo.

Pemerintah menilai penguatan pembiayaan dan tenaga kerja menjadi bagian penting agar ekonomi hijau tidak hanya mendorong investasi, tetapi juga membuka lapangan kerja baru dan mendukung target emisi nol bersih.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *