JAKARTA – Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Budi Tanuwibowo mengaku terkejut ketika dipercaya Presiden Prabowo Subianto menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Ia baru menerima kabar mengenai penunjukan tersebut pada Jumat pagi, 2 Oktober, beberapa jam sebelum dilantik di Istana Negara.
Budi mengatakan telepon itu datang dari Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Penunjukan tersebut terasa khusus baginya karena ia berasal dari komunitas Khonghucu yang jumlahnya relatif kecil di Indonesia dan pernah mengalami masa panjang pembatasan.
“Baik, hari ini saya terus terang kaget ya. Karena baru tadi pagi menerima telepon dari Pak Teddy Indra Wijaya untuk menjadi salah satu anggota Dewan Pertimbangan Presiden,” kata Budi seusai pelantikan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.
Budi mengatakan komunitas Khonghucu pernah mengalami pembekuan selama sekitar dua dekade, dari 1978 hingga 1998. Kondisinya mulai berubah pada awal pemerintahan Presiden BJ Habibie dan berlanjut pada masa Presiden Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono hingga Joko Widodo.
“Saya sangat surprise karena seperti mungkin teman-teman tahu, saya ini dari komunitas Konghucu, jumlahnya paling minim dan pernah mengalami proses pembekuan cukup lama dari tahun 78 sampai tahun 98,” ujarnya.
Karena latar belakang tersebut, Budi mengaku terharu mendapat kepercayaan menjadi anggota Wantimpres.
“Sebagai bagian yang jumlahnya paling kecil tapi mendapat perhatian yang sama,” katanya.
Budi juga menyinggung perjalanan panjang MATAKIN. Menurutnya, embrio organisasi tersebut sudah berdiri pada 17 Maret 1900, kemudian sempat dibekukan pada masa pendudukan Jepang dan kembali bangkit pada 1955.
Ia juga menyebut keterlibatan umat Khonghucu dalam perjalanan menuju kemerdekaan Indonesia. Menurut Budi, ada umat Khonghucu yang terlibat dalam BPUPKI. Ia juga menyebut Djiaw Kie Siong, pemilik rumah yang digunakan saat Soekarno dan Mohammad Hatta dibawa para pemuda ke Rengasdengklok menjelang Proklamasi Kemerdekaan.
Budi memandang penunjukannya menjadi anggota Wantimpres sebagai bentuk perhatian terhadap keberagaman.
“Dengan kejadian hari ini, peristiwa hari ini, saya merasa negeri ini benar-benar sudah memegang teguh salah satu pilarnya, semboyannya, Bhinneka Tunggal Ika,” ujarnya.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
