JAKARTA – Ekspor udang Indonesia belum banyak bergerak sepanjang 2025. Volume ekspor hanya tumbuh sekitar 2 persen dibandingkan tahun sebelumnya, bahkan masih lebih rendah dibandingkan capaian 2023.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyebut volume ekspor udang Indonesia pada 2025 mencapai 218,87 ribu ton. Angka itu naik dari 214,57 ribu ton pada 2024, tetapi belum menyamai 220,88 ribu ton pada 2023.
Direktur Ikan Air Payau KKP Fernando Jongguran Simanjuntak mengatakan kondisi tersebut menjadi tantangan bagi daya saing industri udang nasional. Persoalannya bukan hanya permintaan pasar, tetapi juga menyangkut biaya produksi hingga keamanan pangan.
Industri udang menghadapi harga pakan yang tinggi, penyakit dan persoalan lingkungan. Pada saat yang sama, pasar global semakin menuntut keamanan pangan dan keberlanjutan produk.
Tekanan semakin terasa ketika muncul persoalan tarif resiprokal pada 2025. Fernando menyebut kondisi itu ikut menekan harga udang di dalam negeri hingga hampir Rp11.000 per ukuran.
Belum selesai dengan persoalan tarif, ekspor udang Indonesia juga sempat terganggu isu kontaminasi Cesium-137.
“Karena adanya Cesium itu maka cukup menekan harga udang di Tanah Air karena udang kita hampir seluruhnya sampai beberapa waktu saat itu tidak bisa keluar (ekspor),” kata Fernando dalam pertemuan Towards Sustainable and Conversion-free Aquaculture in Southeast Asia (TOSCA) di Jakarta seperti dikutip dari Antara, Kamis, 1 Oktober.
Penggunaan antibiotik dalam budi daya juga menjadi perhatian. Persoalan ini berkaitan langsung dengan keamanan pangan dan kualitas produk yang masuk ke pasar internasional.
Di tengah volume ekspor yang cenderung stagnan, nilai ekspor justru meningkat. Nilainya mencapai 1,86 miliar dolar AS pada 2025, naik dari 1,68 miliar dolar AS pada 2024. Pada 2023, nilai ekspor tercatat 1,72 miliar dolar AS.
Amerika Serikat masih menjadi pasar terbesar udang Indonesia. Sepanjang 2025, ekspor ke negara itu mencapai 124.563,65 ton atau 56,9 persen dari total ekspor udang nasional.
Untuk meningkatkan daya saing, KKP mendorong efisiensi budi daya, salah satunya melalui pakan berbahan baku lokal. Pemerintah juga mengembangkan konsep Aquafit 2.0.
Konsep tersebut tidak lagi sekadar melihat murah atau mahalnya harga pakan. Perhitungannya diarahkan pada biaya pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan setiap kilogram udang.
Dengan volume ekspor 2025 yang masih di bawah capaian dua tahun sebelumnya, efisiensi produksi menjadi salah satu persoalan yang harus dihadapi industri udang Indonesia untuk bersaing di pasar global.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
