Stafsus Bahlil Tanggapi Permintaan Tambahan Pasokan Listrik Rumah Sakit hingga Kuota BBM di Nagekeo


NAGEKEO – Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Tim ESDM Siaga Bencana, Rudy Sufahriadi merespons berbagai keluhan dan aspirasi masyarakat serta pemerintah daerah pascabencana di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.

Dikatakan Rudy, pihaknya langsung mengambil langkah taktis di lapangan setelah tiga hari meninjau langsung kondisi wilayah terdampak.

Fokus utama penanganan ini mencakup penyelesaian persoalan infrastruktur kelistrikan yang bersinggungan langsung dengan fasilitas pelayanan kesehatan hingga penanganan krisis energi.

“Pertama, permintaan dari Kepala Rumah Sakit (Aeramo) kepada saya bahwa ada tiang sutet di Rumah Sakit itu nanti saya akan komunikasi sama Dirut PLN, saya akan komunikasi bagaimana bisa tindak lanjutnya apa yang terbaik buat Rumah Sakit itu,” ujar Rudy kepada awak media usai menyerahkan Bantuan Sosial di halaman kantor Bupati Nagekeo, Kamis, 1 Oktober.

Selain persoalan fasilitas kesehatan, Rudy juga menyoroti masalah kelangkaan dan panjangnya antrean bahan bakar minyak (BBM) yang dikeluhkan oleh masyarakat dan kepala daerah.

Atas permintaan Bupati Nagekeo, Simplisius Donatus, dirinya langsung berkoordinasi dengan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) terkait usulan penambahan kuota BBM di Nagekeo.

“Terlihat antrean BBM banyak, saya akan juga komunikasi nanti bagaimana mengurangi antrean BBM sesuai permintaan Pak Bupati. Kelangkaan BBM? Sudah saya sampaikan ke BPH Migas, sudah komunikasi sama beliau untuk menambah kuota,” sambung Rudy.

Hadir dalam kesempatan yang sama, Bupati Nagekeo, Simplisius Donatus, menyampaikan rasa terima kasih kepada Menteri ESDM dan Presiden Republik Indonesia atas pengiriman utusan khusus untuk membantu meringankan beban warganya.

“Sekali lagi, saya atas nama pemerintah dan masyarakat Kabupaten Nagekeo mengucapkan terima kasih kepada Menteri ESDM dan Bapak Presiden Republik Indonesia yang telah menghadirkan pemerintah, menghadirkan negara di Kabupaten Nagekeo ketika Nagekeo mengalami bencana ini,” pungkasnya.

Sebelumnya Kepala Bagian Tata Usaha RSUD Aeramo, Frumensius Ndona meminta penambahan daya listrik untuk mendukung pelayanan kesehatan.

Frumensius menjelaskan, saat ini, daya listrik yang tersedia di rumah sakit tersebut hanya 150 kVA, sementara kebutuhan operasional peralatan kesehatan diperkirakan mencapai 500 kVA.

“Saat ini kita hanya 150 kVA, sementara peralatan di dalam itu butuh sekitar 500 kVA. Apalagi kalau CT scan masuk, mesinnya masuk, itu butuh dayanya agak besar,” ujar Frumensius saat ditemui di halaman Gedung RSUD Aeramo, Rabu, 30 September.

Dikatakan Frumens, keterbatasan daya menjadi salah satu kendala dalam mengoperasikan berbagai peralatan medis di rumah sakit.

Apalagi, lanjutnya, saat ini pihaknya masih melakukan pelayanan kesehatan di luar bangunan rumah sakit yang rusak pasca gempa bumi 15 Agustus yang lalu.

Frumens menjelaskan, selama ini sumber listrik utama RSUD Aeramo berasal dari PLN dengan genset sebagai sumber cadangan.

Namun, ketika terjadi pemadaman listrik dari PLN dan genset dinyalakan, tidak seluruh peralatan medis dapat beroperasi secara optimal.

“Ketika listrik mati PLN, genset naik, ada mesin yang tidak bisa mengangkat. Ada mesin alkes yang tidak bisa mengangkat. Makanya kita butuh naikkan daya PLN biar lebih stabil,” sambung dia.

Karena itu, lanjut Frumensius, RSUD Aeramo mengusulkan peningkatan daya listrik dari 150 kVA menjadi 500 kVA.

Menurutnya, tambahan daya tersebut terutama dibutuhkan untuk mendukung sejumlah unit pelayanan yang membutuhkan pasokan listrik besar, seperti ruang operasi, ruang perinatal, ICU, radiologi, dan laboratorium.

Dok. Maria

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *