JAKARTA – Penipuan yang menyasar lansia atau elder fraud disebut semakin meningkat di Amerika Serikat. Pelaku memanfaatkan data pribadi korban yang tersedia secara online untuk membangun skenario penipuan yang meyakinkan.
Berdasarkan analisis Incogni terhadap data FBI, sebanyak 72 persen kasus penipuan terhadap lansia pada 2024 disebut melibatkan data pribadi korban yang terekspos secara online. Kasus tersebut dikaitkan dengan kerugian mencapai US$4,2 miliar atau sekitar Rp75,6 triliun berdasarkan kurs US$1 = Rp18.006,58.
Salah satu celah yang dapat dimanfaatkan pelaku adalah informasi yang dibagikan dalam grup percakapan keluarga. Informasi sehari-hari, seperti kunjungan ke dokter atau rencana perjalanan, dapat memberikan detail pribadi yang kemudian digunakan untuk menyamar sebagai anggota keluarga.
Aplikasi pesan seperti iMessage dan WhatsApp memang menggunakan enkripsi end-to-end. Namun, perlindungan tersebut tidak selalu mencegah pelaku mendapatkan akses apabila nomor telepon korban terlebih dahulu berhasil diambil alih.
Salah satu metode yang digunakan adalah SIM swap. Dalam modus ini, pelaku memanfaatkan informasi pribadi yang diperoleh dari sumber publik untuk meyakinkan operator seluler bahwa mereka adalah pemilik nomor telepon yang menjadi target.
Pelaku kemudian mengaku bahwa ponsel korban hilang atau rusak dan meminta nomor telepon dipindahkan ke kartu SIM baru yang mereka miliki.
Jika operator seluler tertipu, pesan teks yang seharusnya diterima korban akan masuk ke perangkat pelaku. Kondisi ini juga dapat membuat kode autentikasi dua faktor atau two-factor authentication (2FA) berbasis SMS diterima oleh penipu.
Kode tersebut dapat digunakan untuk mengatur ulang kata sandi dan berupaya mendapatkan akses ke akun, termasuk rekening bank. Pengambilalihan nomor telepon juga dapat memberikan pelaku akses ke grup percakapan keluarga.
Informasi yang sebelumnya dikumpulkan dari internet kemudian dapat digabungkan dengan detail yang ditemukan dalam percakapan. Kombinasi tersebut memungkinkan pelaku membuat skenario yang lebih meyakinkan ketika menghubungi korban dan mengaku sebagai anggota keluarga yang sedang membutuhkan bantuan.
Bahkan, pesan suara dari anggota keluarga dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan contoh suara yang kemudian digunakan dalam pembuatan deepfake suara.
Cara Melindungi Keluarga
Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko penipuan semacam ini.
Langkah pertama adalah mengurangi jumlah data pribadi yang tersedia secara online. Pelaku dapat memanfaatkan situs data broker untuk memperoleh informasi seperti nama anggota keluarga, nomor telepon, hobi, hingga riwayat perjalanan.
Langkah berikutnya adalah mengaktifkan autentikasi dua faktor pada aplikasi pesan, media sosial, serta layanan lain yang menyediakan fitur tersebut.
Jika tersedia pilihan antara kode melalui pesan teks dan aplikasi autentikator, penggunaan aplikasi autentikator disebut lebih aman terhadap serangan SIM swap karena kode tidak dikirim melalui nomor telepon yang dapat diambil alih.
Langkah lain adalah melakukan verifikasi melalui saluran komunikasi berbeda. Jika seseorang mengirim pesan dan mengaku sebagai anggota keluarga yang membutuhkan bantuan, hubungi anggota keluarga tersebut melalui metode lain untuk memastikan identitasnya.
Misalnya, jika permintaan diterima melalui pesan teks, verifikasi dapat dilakukan melalui email atau panggilan telepon. Semakin banyak saluran komunikasi yang harus ditembus pelaku, semakin sulit bagi mereka untuk mempertahankan penyamaran.
Keluarga juga dapat membuat kata sandi rahasia yang hanya diketahui anggota keluarga. Kata sandi tersebut dapat digunakan untuk memverifikasi identitas ketika menerima panggilan darurat yang mengaku berasal dari anggota keluarga.
Verifikasi tetap perlu dilakukan meskipun penelepon terdengar seperti anggota keluarga dan mengetahui banyak informasi pribadi. Kata sandi rahasia menjadi lapisan tambahan untuk memastikan bahwa orang yang menghubungi benar-benar anggota keluarga, bukan pelaku penipuan yang telah memperoleh akses terhadap informasi pribadi dan akun komunikasi.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
