JAKARTA – Masa depan Apple Vision Pro kembali dipertanyakan setelah penjualan ritel yang disebut lemah, perubahan struktur organisasi, serta pengurangan tenaga kerja di tim pengembangan perangkat tersebut. Laporan Mark Gurman dari Bloomberg menyebut pengembangan perangkat keras headset generasi berikutnya kini berada dalam kondisi yang sangat terbatas, sementara Apple mengalihkan lebih banyak sumber daya ke pengembangan kacamata pintar.
Menurut laporan tersebut, perubahan arah terjadi sekitar dua tahun setelah Apple memperkenalkan Vision Pro sebagai perangkat komputasi spasial dengan harga hampir US$4.000 atau sekitar Rp71,95 juta berdasarkan kurs Rp17.987,49 per dolar AS.
Kondisi tersebut juga dikaitkan dengan perubahan kepemimpinan di Apple. John Ternus kini memegang posisi CEO, sementara Johny Srouji mengambil peran sebagai Chief Hardware Officer. Perubahan struktur tersebut menempatkan pengembangan perangkat keras Vision Pro pada posisi organisasi yang berbeda dibandingkan sebelumnya.
Laporan Bloomberg menyebut restrukturisasi tersebut turut memengaruhi posisi sejumlah eksekutif di kelompok Vision. Paul Meade, yang sebelumnya memimpin pengembangan perangkat keras Vision, disebut meninggalkan Apple untuk bergabung dengan OpenAI setelah posisinya diturunkan dalam struktur organisasi.
Penggantinya, Fletcher Rothkopf, juga disebut kini berada di bawah wakil presiden Tom Marieb dan tidak lagi melapor langsung ke jajaran pimpinan tertinggi Apple. Perubahan tersebut berlangsung bersamaan dengan pengurangan tenaga kerja pada sejumlah tim yang berkaitan dengan pengembangan Vision.
Laporan yang sama juga menyebut penjualan Vision Pro di toko ritel Apple tergolong rendah. Beberapa toko disebut hanya menjual sekitar satu unit dalam sebulan, meskipun angka tersebut merupakan laporan mengenai kondisi di sejumlah toko dan bukan angka penjualan resmi yang dipublikasikan Apple.
Apple masih disebut mengembangkan perangkat dengan kode nama N224. Tim teknik dikabarkan sedang mengeksplorasi sekitar empat konsep desain untuk mengatasi persoalan bobot dan ergonomi yang menjadi tantangan pada headset generasi pertama.
Salah satu konsep yang disebut sedang dipertimbangkan adalah memindahkan sebagian komponen pemrosesan dari headset ke unit baterai eksternal. Pendekatan tersebut serupa dengan konsep yang digunakan sejumlah perangkat realitas campuran lain.
Namun, menurut laporan tersebut, sejumlah pimpinan Apple tidak menyukai penggunaan unit eksternal. Mereka lebih memilih desain yang menggabungkan seluruh komponen ke dalam perangkat meskipun konsekuensinya dapat menunda peluncuran produk hingga 2028 atau 2029.
Bobot dan harga Vision Pro juga disebut menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan arah pengembangan produk. Ternus sebelumnya dilaporkan memiliki pandangan skeptis terhadap desain headset yang berat dan harga tinggi.
Dalam perkembangan terbaru, Apple disebut lebih banyak mengarahkan sumber daya ke perangkat yang lebih ringan. Salah satu fokusnya adalah pengembangan kacamata pintar tanpa layar yang dapat menggunakan kamera dan sejumlah fungsi berbasis kecerdasan buatan.
Apple juga disebut mengeksplorasi perangkat lain yang dapat dikenakan, termasuk AirPods dengan kamera dan gelang kesehatan tanpa layar. Arah tersebut menunjukkan perluasan pengembangan perangkat komputasi yang dapat dikenakan di luar headset Vision Pro.
Kacamata pintar menjadi salah satu bidang yang mendapat perhatian lebih besar karena formatnya memungkinkan perangkat digunakan tanpa harus menempatkan layar besar di depan mata pengguna. Produk sejenis dari Meta melalui lini Ray-Ban juga menjadi bagian dari perkembangan kategori tersebut.
Meski demikian, laporan mengenai pergeseran sumber daya tersebut belum berarti Apple telah menghentikan Vision Pro. Perusahaan masih disebut mengembangkan sejumlah konsep headset, termasuk N224.
Dengan demikian, masa depan Apple Vision Pro masih bergantung pada keputusan Apple mengenai desain, harga, bobot, serta prioritas pengembangan perangkat kerasnya. Hingga saat ini, Apple belum mengumumkan penghentian lini Vision Pro maupun memberikan jadwal resmi untuk headset generasi berikutnya.
Perubahan organisasi dan fokus pengembangan yang dilaporkan Bloomberg menjadi indikasi bahwa strategi Apple untuk perangkat realitas spasial sedang mengalami penyesuaian. Pada saat yang sama, pengembangan kacamata pintar dan perangkat yang dapat dikenakan menjadi salah satu arah yang mendapat perhatian lebih besar dari perusahaan.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
