BOGOR – Ketua DPRD Kota Bogor Adityawarman Adil mengingatkan mahasiswa STMIK Tazkia bahwa pesatnya perubahan teknologi tidak boleh membuat generasi muda kehilangan peran dan tanggung jawabnya dalam membangun bangsa.
Pesan tersebut disampaikan Adityawarman saat menghadiri Kuliah Umum STMIK Tazkia di Ruang Rapat Paripurna DPRD Kota Bogor, Sabtu 26 September.
Menurut Adityawarman, perubahan zaman terlihat jelas dari perkembangan teknologi dan sarana komunikasi yang semakin cepat. Perubahan tersebut telah mengubah cara masyarakat berkomunikasi dan menjalankan aktivitas sehari-hari.
Ia menggambarkan perubahan komunikasi dari masa ke masa, mulai dari interaksi secara langsung, surat-menyurat melalui sahabat pena yang membutuhkan waktu berbulan-bulan, penggunaan telepon umum, hingga hadirnya telepon genggam yang memungkinkan komunikasi berlangsung secara cepat dan real-time.
Menurutnya, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa teknologi terus berubah mengikuti zaman. Namun, perubahan teknologi tidak mengubah tanggung jawab generasi muda untuk memberikan kontribusi bagi bangsa.
“Kalau zaman berubah cepat, tapi anak muda perannya sama,” tegas Adityawarman.
Ia mengatakan mahasiswa memiliki posisi penting sebagai salah satu pilar kebangkitan bangsa. Karena itu, masa perkuliahan harus dimanfaatkan untuk memperluas pengetahuan, meningkatkan kemampuan, dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan masa depan.
Adityawarman juga mendorong mahasiswa STMIK Tazkia menjadikan proses pendidikan sebagai bekal untuk mengambil peran dalam pembangunan Indonesia menuju 2045.
“Oleh karena itu, mahasiswa yang hadir, berkuliah di STMIK Tazkia, ingatlah tugas mahasiswa, tugas anak muda itu sama. Dia akan menjadi pilar kebangkitan sebuah bangsa,” tuturnya.
Menurut dia, ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan tidak hanya berguna untuk menyelesaikan perkuliahan, tetapi juga menjadi modal dalam menentukan langkah dan membangun karier di masa mendatang.
Selain persoalan pendidikan dan pengembangan kemampuan, Adityawarman mengingatkan mahasiswa agar tidak melupakan perjuangan orang tua yang telah mendukung pendidikan mereka.
Ia mengatakan biaya kuliah, uang saku, hingga pendampingan orang tua selama mahasiswa menjalani pendidikan merupakan bentuk pengorbanan yang perlu dijawab dengan kesungguhan dalam belajar.
“Jadikan motivasi bagaimana nanti bisa memuliakan kedua orang tua, menjadi motivasi kita untuk belajar dengan baik. Ya setelah itu memuliakan orang tua, insyaallah kita akan juga berkontribusi besar untuk bangsa dan negara Indonesia,” ungkapnya.
Adityawarman juga mengutip pepatah ulama mengenai pentingnya ilmu pengetahuan. Menurutnya, ilmu merupakan salah satu bekal utama dalam menjalani kehidupan sekaligus menjadi sarana untuk memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
Melalui Kuliah Umum STMIK Tazkia, mahasiswa diharapkan tidak hanya memperoleh wawasan mengenai kepemimpinan dan perubahan zaman, tetapi juga terdorong untuk terus menuntut ilmu, menghargai perjuangan orang tua, serta mempersiapkan diri mengambil peran dalam pembangunan Indonesia menuju 2045.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
