JAKARTA – High Level Week Sidang Majelis Umum (SMU) ke-81 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dimulai pada hari ini hingga Senin pekan depan, dengan delegasi dari berbagai negara datang ke New York, Amerika Serikat untuk mengikuti rangkaian kegiatan, serta menggelar pertemuan bilateral dengan mitranya.
Jalan-jalan di sekitar markas besar PBB telah ditutup dan akses dibatasi hanya bagi pemegang kartu identitas resmi saat Sesi Debat Umum akan dimulai.
Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva dijadwalkan membuka debat pada Hari Selasa, diikuti dengan pidato oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Tahun ini, delegasi Indonesia akan dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Sugiono. Ia dijadwalkan menyampaikan Pernyataan Nasional Indonesia pada Sabtu (26/9) waktu setempat.
Lebih dari 1.000 pertemuan bilateral antarnegara anggota berlangsung pekan ini, di mana diplomasi di balik layar berfokus pada pembentukan kemitraan baru dan pencarian solusi atas berbagai konflik di seluruh dunia, khususnya di Timur Tengah.
“Rasanya seperti sedang berselancar di atas ombak raksasa, dan satu-satunya hal yang Anda upayakan adalah bertahan hingga akhir pekan,” ujar Stephane Dujarric, juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres kepada The National, seperti dikutip (22/9).
“Anda bergerak didorong oleh adrenalin,” lanjutnya.
Para delegasi, pejabat, menteri, dan pemimpin dunia terlihat berjalan di jalan-jalan sekitar markas besar PBB di Midtown Manhattan, sesekali berhenti untuk menyapa kenalan atau berbicara dengan wartawan.
Dengan kartu identitas tergantung di leher dan mengenakan pakaian formal, para delegasi Majelis Umum PBB memadati jalanan, datang dari berbagai penjuru dunia.
Bagi negara-negara Timur Tengah khususnya, pekan ini menjadi kesempatan untuk melakukan pembicaraan diplomatik intensif guna mencari solusi atas konflik di kawasan tersebut, terutama terkait konflik Iran yang berdampak signifikan terhadap ekonomi global.
Sementara itu, bagi Sekretaris Jenderal Antonio Guterres, fokus utamanya adalah menegaskan kembali komitmen terhadap cita-cita PBB dan mendorong negara-negara anggota untuk menangani berbagai “risiko yang tak terkendali” – baik itu kecerdasan buatan (AI), perubahan iklim, maupun ketimpangan – kata Dujarric.
“Sudah ada permintaan untuk sekitar 1.000 pertemuan bilateral antarnegara anggota,” ungkapnya.
Ia menyebut hal ini sebagai “kesempatan bagi para kepala negara dan pemerintahan untuk saling bertemu secara sangat tertutup.”
PBB menyediakan bilik-bilik pertemuan yang biasanya dapat dipesan dalam slot waktu setengah jam untuk pertemuan antar-delegasi.
“Ini benar-benar diplomasi dalam bentuknya yang paling murni,” ujar Dujarric.
SMU PBB tahun ini merupakan kali ke-26 bagi Dujarric. Meski demikian, ia mengatakan tidak pernah kehilangan “rasa takjub” saat menjadi bagian dari pertemuan bersejarah ini.
“Saat (saya) melangkah masuk ke ruang Sidang Majelis Umum, rasanya masih seperti pengalaman pertama saya,” tandasnya.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
