JAKARTA – Pemerintah terus mendorong penguatan industri manufaktur sebagai salah satu pilar transformasi ekonomi nasional melalui peningkatan produktivitas, penguasaan teknologi, pengembangan sumber daya manusia (SDM), serta penguatan rantai pasok dan orientasi ekspor.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan, industri otomotif memiliki peran strategis karena memiliki rantai nilai yang panjang dan keterkaitan luas dengan industri komponen, logistik, jasa, serta sektor pendukung lainnya.
Hal tersebut disampaikan Susiwijono saat melakukan kunjungan kerja ke Toyota Commemorative Museum of Industry and Technology (TCMIT) di Nagoya, Jepang. Pada kunjungan tersebut, Susiwijono didampingi Vice President/Director PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) I Nyoman Winaya, Director TMMIN H. Watanabe, dan Advisor BOD TMMIN Bob Azam.
Menurutnya, kunjungan tersebut menjadi kesempatan yang baik untuk mempelajari perjalanan Toyota dalam membangun kapabilitas dan kapasitas industri melalui inovasi, pengembangan teknologi, serta penguatan budaya manufaktur.
TCMIT merupakan fasilitas yang didirikan Toyota Group di lokasi yang menjadi cikal bakal perkembangan Toyota. Museum tersebut menampilkan evolusi teknologi Toyota, mulai dari industri tekstil hingga otomotif, sekaligus menekankan pentingnya riset, kreativitas, dan manufaktur dalam pengembangan industri.
Susiwijono menyampaikan bahwa pengalaman panjang Toyota dalam mengembangkan industri otomotif memiliki relevansi yang kuat dengan upaya Indonesia untuk terus meningkatkan daya saing industri manufaktur dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
“Toyota merupakan salah satu contoh terbaik bagaimana inovasi, penguasaan teknologi, pengembangan SDM, dan penguatan rantai pasok dapat membangun industri yang berdaya saing global. Pengalaman tersebut relevan bagi Indonesia dalam terus memperkuat industri manufaktur dan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri,” ujarnya.
Hubungan Toyota dengan Indonesia telah berlangsung lebih dari lima dekade dan menjadi bagian dari perkembangan industri otomotif nasional. Toyota Indonesia tercatat telah memproduksi 10 juta unit kendaraan, dengan lebih dari 3 juta unit di antaranya diekspor ke lebih dari 100 negara.
Investasi Toyota Group di Indonesia juga telah mencapai sekitar Rp100 triliun dengan ekosistem yang melibatkan lebih dari 360 ribu tenaga kerja. Tingkat kandungan lokal produk Toyota di Indonesia telah mencapai lebih dari 80 persen.
Kinerja tersebut menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya berperan sebagai pasar otomotif, tetapi juga telah berkembang pesat menjadi salah satu basis produksi dan ekspor Toyota ke manca negara.
Selain itu, ekosistem Toyota di Indonesia didukung lebih dari 240 pemasok Tier-1 serta 520 pemasok Tier-2 dan Tier-3. yang turut memperkuat keterkaitan industri dan kemampuan manufaktur nasional.
Ia menambahkan pemerintah melihat pengalaman tersebut sebagai salah satu contoh penting pengembangan industrial ecosystem yang mengintegrasikan investasi, industri komponen, SDM, teknologi, dan ekspor.
Ke depan, Susiwijono menyampaikan bahwa penguatan ekosistem tersebut menjadi semakin penting dalam menghadapi transformasi industri menuju kendaraan yang lebih ramah lingkungan.
Transformasi industri otomotif juga terus berlangsung seiring dengan perkembangan kendaraan elektrifikasi dan Toyota Indonesia terus mengembangkan kemampuan produksi kendaraan elektrifikasi sekaligus memperkuat rantai pasok domestik.
Pada April 2026, TMMIN mengumumkan kemitraan strategis dengan Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL) untuk mengembangkan produksi baterai kendaraan elektrifikasi di Indonesia dengan nilai investasi Rp1,3 triliun.
Produksi tersebut mencakup pengembangan sel dan modul baterai. Indonesia diproyeksikan menjadi basis ekspor baterai Toyota ke pasar global mulai semester II 2026.
Menurut Susiwijono, pengembangan ekosistem kendaraan elektrifikasi membuka peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah, memperkuat industri komponen dalam negeri, serta meningkatkan kapasitas SDM dalam penguasaan teknologi baru.
“Transformasi menuju kendaraan elektrifikasi membuka peluang untuk memperkuat rantai pasok dari hulu hingga hilir, termasuk pengembangan baterai, komponen, daur ulang, dan sumber daya manusia. Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi bagian penting dari rantai nilai kendaraan elektrifikasi global,” katanya.
Pemerintah akan terus mendorong kolaborasi dengan pelaku industri untuk memperkuat daya saing manufaktur nasional, memperluas pasar ekspor, serta meningkatkan kemampuan industri dalam menghadapi perkembangan teknologi.
Kunjungan ke TCMIT diharapkan dapat memperkuat dialog antara pemerintah Indonesia dan Toyota mengenai pengembangan industri manufaktur, inovasi teknologi, penguatan rantai pasok, elektrifikasi kendaraan, pengembangan SDM, dan perluasan ekspor, sekaligus memperkuat kemitraan ekonomi Indonesia-Jepang yang telah berlangsung lebih dari lima dekade.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
