JAKARTA – Toyota mengambil pendekatan berbeda dalam mengembangkan GR GT dan GR GT3. Alih-alih merancang mobil jalan raya terlebih dahulu lalu memodifikasinya untuk balap, Toyota menyebut kebutuhan mobil balap menjadi dasar pengembangan GR GT. Hasilnya, versi jalan raya GR GT memiliki lebih dari 80 persen komponen yang sama dengan mobil balap GR GT3.
Toyota Senior Vice President of Automotive Operations, Andrew Gilleland, mengatakan rancangan GR GT sejak awal memprioritaskan kebutuhan kompetisi.
“Seluruh kendaraan ini dirancang sebagai mobil balap terlebih dahulu,” kata Gilleland dalam video yang dipublikasikan kanal YouTube IMSA.
Menurut dia, berbagai perangkat aerodinamika pada GR GT versi jalan raya bukan sekadar aksesori untuk tampilan. Komponen tersebut dikembangkan berdasarkan kebutuhan performa kendaraan di lintasan.
“Jadi ketika melihat mobil jalan rayanya, Anda akan melihat berbagai perangkat aerodinamika. Itu bukan sekadar untuk tampilan,” ujar Gilleland.
Perbedaan antara versi balap dan versi jalan raya tetap ada. GR GT3 menggunakan sayap belakang berukuran besar, ventilasi udara yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan pendinginan, serta ventilasi pada fender depan.

Namun, secara keseluruhan kedua kendaraan memiliki banyak kesamaan. Gilleland menyebut lebih dari 80 persen komponen GR GT3 digunakan bersama dengan GR GT versi jalan raya.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan Lexus RC F GT3 yang saat ini digunakan Toyota dalam ajang IMSA. Mobil balap tersebut disebut memiliki tingkat kesamaan komponen sekitar 25 persen dengan versi jalan rayanya.
Pengembangan dengan orientasi balap juga membawa Toyota menggunakan sejumlah konfigurasi teknis baru. GR GT versi jalan raya menggunakan sistem hibrida yang dipadukan dengan mesin V8 4,0 liter twin-turbo generasi baru.

Mesin tersebut ditargetkan menghasilkan tenaga 641 daya kuda dan torsi 627 lb-ft atau sekitar 850 Nm dalam konfigurasi yang memenuhi ketentuan penggunaan di jalan raya.
Untuk GR GT3, sistem hibrida tersebut dihilangkan, tetapi mesin V8 tetap digunakan. Mesin tersebut menggunakan konfigurasi turbo “hot-V”, dengan posisi turbo ditempatkan di area bagian dalam konfigurasi mesin.
Mesin juga dipasang jauh ke belakang di dalam sasis. Penempatan tersebut terlihat ketika kap mesin GR GT3 dibuka dalam video yang dipublikasikan IMSA.
Konfigurasi mesin dan rancangan kendaraan tersebut membuat GR GT3 memiliki karakter yang berbeda dari pendekatan Toyota pada mobil sport sebelumnya. Mobil tersebut dikembangkan untuk bersaing dalam kategori GT3, termasuk menghadapi Mercedes-AMG GT GT3.

Pendekatan Toyota ini mengingatkan pada Ford GT, yang dikembangkan dengan orientasi memenangkan kelas GT pada ajang 24 Hours of Le Mans 2016 sebelum versi jalan rayanya dibuat untuk memenuhi kebutuhan homologasi.
Namun, program GR GT disebut memiliki cakupan yang lebih luas. Toyota tidak membatasi pengembangan mobil tersebut pada satu target kemenangan dalam balapan tertentu.
Jumlah GR GT untuk jalan raya juga akan dibuat terbatas. Toyota belum memberikan rincian lengkap mengenai jumlah produksi dalam informasi yang dikutip The Drive.
Toyota sendiri memiliki sejarah panjang di ajang balap mobil sport, termasuk ketika IMSA memasuki periode kejayaannya. Pabrikan Jepang tersebut berkompetisi melalui kendaraan berbasis produksi maupun mobil prototipe.
Lexus RC F GT3 kemudian melanjutkan kiprah Toyota di kategori GT. Pada 2023, Vasser Sullivan Racing bersama Lexus RC F GT3 meraih gelar pembalap, tim, dan pabrikan GTD Pro.
Melalui GR GT dan GR GT3, Toyota kembali mengembangkan mobil sport dengan hubungan yang lebih erat antara kendaraan jalan raya dan mobil balap. Berbeda dari pola umum ketika mobil produksi dimodifikasi untuk kompetisi, GR GT sejak awal dirancang dengan kebutuhan balap sebagai salah satu dasar utama pengembangannya.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
