Karhutla Kalsel Ancam Habitat Bekantan, 12 Ekor Dilaporkan Mati


BANJARMASIN – Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Selatan mulai mengancam habitat bekantan. Dampaknya tidak berhenti saat api padam karena vegetasi dan sumber pakan membutuhkan waktu untuk pulih.

Founder Sahabat Bekantan Indonesia sekaligus akademisi Biologi Konservasi Universitas Lambung Mangkurat, Amalia Rezeki, mengatakan bekantan sangat bergantung pada vegetasi tepian sungai dan kawasan lahan basah.

“Asap dapat menurunkan kualitas udara dan berpotensi mengganggu sistem pernapasan manusia dan satwa. Kita juga perlu memperhatikan kemungkinan perubahan perilaku, misalnya aktivitas makan, beristirahat, atau pergerakan kelompok ketika kondisi lingkungannya terganggu,” kata Amalia, dikutip dari Antara, Sabtu, 19 September.

Menurut Amalia, karhutla dapat berdampak pada bekantan melalui beberapa cara. Selain kualitas udara yang memburuk, kebakaran bisa merusak vegetasi tepian sungai dan mengurangi tutupan pohon yang menjadi bagian penting habitat satwa tersebut.

Amalia menegaskan, tingkat gangguan kesehatan pada bekantan di setiap lokasi tetap harus dibuktikan melalui pemeriksaan dan pemantauan lapangan.

Kerusakan vegetasi juga bisa mengurangi sumber pakan, tempat berlindung, lokasi beristirahat, serta jalur perpindahan bekantan. Dalam kondisi tertentu, kelompok satwa itu dapat berpindah mencari habitat yang masih menyediakan makanan dan perlindungan.

“Perpindahan atau migrasi ini tentu perlu kita pantau, karena bisa saja mereka memasuki habitat yang kualitasnya kurang baik atau menghadapi gangguan dari aktivitas manusia,” ujarnya.

Dampak terhadap habitat tidak otomatis selesai ketika api berhasil dipadamkan. Vegetasi yang terbakar membutuhkan waktu untuk tumbuh kembali, sementara bekantan tetap membutuhkan makanan dan tempat berlindung setiap hari.

Karena itu, pemulihan pascakarhutla dinilai perlu mencakup pemantauan vegetasi, ketersediaan pakan alami, kualitas habitat, serta keberadaan kelompok bekantan di kawasan terdampak.

Amalia mencontohkan Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak yang terus dipantau untuk melihat kondisi habitat, ketersediaan pakan alami, dan perubahan lingkungan.

“Dalam konservasi, kita tidak boleh hanya mengukur keberhasilan dari berhasil atau tidaknya memadamkan api. Kita juga harus melihat apakah habitatnya masih mampu mendukung kehidupan bekantan setelah kebakaran terjadi,” katanya.

Sebelumnya, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan menerima laporan 12 bekantan mati terdampak karhutla di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

BKSDA Kalsel mencatat populasi bekantan di provinsi itu pada 2025 diperkirakan sekitar 3.700 individu. Sekitar sepertiganya berada di kawasan konservasi, sedangkan dua pertiga lainnya hidup di luar kawasan konservasi, termasuk hutan produksi, hutan lindung, dan areal penggunaan lain.

Sebanyak 12 bekantan yang terdampak karhutla di Balimau berada di kawasan areal penggunaan lain yang merupakan tanah milik desa. BKSDA Kalsel menyatakan akan melanjutkan pendataan kawasan di luar konservasi yang menjadi habitat satwa liar.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *