JAKARTA – Menteri Luar Negeri Iran pada Hari Minggu menepis ancaman sanksi baru Amerika Serikat sebagai tanda keputusasaan, menyatakan langkah-langkah baru yang diperkirakan itu tidak akan berhasil menaklukkan Teheran.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent, yang dijadwalkan mengadakan konferensi pers pada pukul 14.00 EDT Hari Senin, telah mengancam akan menjatuhkan “sanksi terberat dalam sejarah” terhadap Iran.
Menyoroti apa yang disebutnya sebagai “skenario yang berulang-ulang,” Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan dalam video yang diunggah di Telegram: “Fakta bahwa mereka (para pemimpin AS) telah beralih dari operasi militer dan kembali mengusung rencana lama yang sama menunjukkan bahwa mereka sedang putus asa,” seperti melansir Al Arabiya dari Reuters (24/8).
Ia mengatakan Washington harus berbicara kepada Tehran dengan penuh rasa hormat untuk menemukan “solusi yang berlandaskan keadilan dan kehormatan.”
“Kami tidak pernah merasa takut. Semua tindakan mereka – baik itu blokade maupun langkah militer lainnya – telah gagal, dan langkah baru mereka ini pun akan gagal,” ujarnya.
Diketahui, perekonomian Iran sudah berada di bawah tekanan hebat akibat sanksi internasional; infrastrukturnya telah berulang kali dihantam dan ribuan orang tewas dalam serangan udara sejak AS dan Israel melancarkan serangan pada 28 Februari.
Namun, Teheran tetap teguh setelah hampir enam bulan perang dan telah melumpuhkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, dengan menolak mengizinkan kapal tanker minyak yang tidak berizin melintasi jalur air yang vital bagi pengiriman minyak global tersebut.
Blokade efektif terhadap selat itu telah mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Presiden AS Donald Trump telah memperingatkan akan adanya konsekuensi ekonomi bagi negara mana pun yang memberikan “bentuk bantuan vital apa pun kepada Iran,” sementara Menkeu Bessent telah mendesak kerja sama dari Washington dengan Tiongkok, negara yang membeli lebih dari 80 persen minyak ekspor Iran menurut data tahun 2025 dari perusahaan analitik Kpler.
Tiongkok sendiri telah mendesak penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
