JAKARTA – Pemerintah memetakan peluang peningkatan ekspor Indonesia di empat pasar utama, yakni China, Amerika Serikat, Jepang, dan India. China tercatat memiliki celah ekspor terbesar dengan potensi mencapai 31 miliar dolar AS.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah akan memperkuat strategi ekspor berdasarkan komoditas dan kebutuhan masing-masing pasar.
“Pendekatan ini dilakukan dengan mengidentifikasi komoditas berkapasitas ekspor tinggi, memetakan kesenjangan antara ekspor Indonesia dengan kebutuhan impor negara mitra, serta mengurai hambatan yang dihadapi pelaku usaha,” kata Airlangga dalam keterangannya di Jakarta, dikutip dari Antara, Rabu, 14 Oktober.
Celah ekspor atau export gap menggambarkan selisih antara nilai ekspor Indonesia saat ini dan potensi ekspor yang masih dapat dikembangkan di negara tujuan.
Hasil pemetaan menunjukkan China memiliki export gap sebesar 31 miliar dolar AS. Peluangnya terutama berasal dari mineral dan logam beserta produknya, sumber daya mineral, mesin dan peralatan elektronik, kayu, kertas, karet, plastik, serta produk kimia.
Amerika Serikat berada di posisi berikutnya dengan potensi export gap 14 miliar dolar AS. Peluang terbuka pada kendaraan, mineral dan logam, mesin dan peralatan elektronik, kayu, kertas, karet, plastik, serta produk kimia.
Di India, celah ekspor diperkirakan mencapai 10 miliar dolar AS, terutama dari mineral dan logam, bahan kimia, mesin dan elektronik, serta produk nabati.
Sementara Jepang memiliki potensi export gap sebesar 5,5 miliar dolar AS. Komoditas yang masih dapat didorong antara lain mineral dan logam, hasil laut, produk nabati, serta bahan kimia.
Airlangga mengatakan pemetaan itu menunjukkan peningkatan ekspor tidak harus selalu dilakukan dengan mencari pasar baru.
“Pemetaan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan ekspor tidak hanya perlu dilakukan melalui pencarian pasar baru, tetapi juga dengan memperdalam pasar yang selama ini telah menjadi tujuan ekspor Indonesia,” ujarnya.
Untuk menangkap peluang tersebut, pemerintah akan mempertemukan kemampuan produksi dalam negeri dengan kebutuhan spesifik negara tujuan.
Sektor yang disasar mencakup pertambangan, pertanian dan perkebunan, perikanan, serta manufaktur. Pemerintah juga memetakan peluang ekspor produk elektronik, teknologi, dan telekomunikasi.
Koordinasi lintas kementerian dan lembaga bersama pelaku usaha juga akan diperkuat untuk mengatasi hambatan ekspor, mulai dari regulasi, standardisasi persyaratan pasar, hingga kendala teknis.
Pemerintah berharap langkah tersebut dapat meningkatkan nilai ekspor sekaligus memperbesar porsi produk bernilai tambah dan memperluas ragam komoditas Indonesia di pasar utama.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
