PBB Tegaskan Dukungan Terhadap Perdamaian dan Stabilitas di Lebanon


JAKARTA – Seorang pejabat senior PBB pada Hari Rabu menegaskan kembali komitmen badan multilateral tersebut terhadap perdamaian dan stabilitas di Lebanon, saat mandat pasukan penjaga perdamaian di negara tersebut akan berakhir tahun ini.

Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Operasi Perdamaian Jean-Pierre Lacroix bertemu dengan para pejabat serta perwakilan negara-negara yang berkontribusi pada Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL), yang mencakup sekitar 7.500 personel dari hampir 50 negara.

“Saya berterima kasih kepada mereka atas dukungan penting bagi UNIFIL dan menegaskan kembali komitmen kuat PBB untuk mendukung perdamaian dan stabilitas di Lebanon,” kata Lacroix, melansir Al Arabiya dari AFP (15/10).

Presiden Joseph Aoun mengatakan kepada Lacroix, Lebanon “sangat menginginkan UNIFIL tetap berada di sana, mengingat pentingnya peran yang telah dijalankannya sejak awal misi hingga saat ini,” menurut pernyataan dari Kantor Presiden.

“Situasi akibat serangan dan pendudukan Israel terhadap desa-desa dan kota-kota di wilayah selatan menjadikan keberadaan pasukan internasional sangatlah penting,” lanjut Presiden Aoun.

Penarikan UNIFIL “akan menciptakan kekosongan yang berdampak negatif terhadap situasi keamanan di kawasan tersebut,” Ia memperingatkan.

Kelompok militan Lebanon, Hizbullah, menyeret negara itu ke dalam konflik Timur Tengah yang lebih luas pada Bulan Maret dengan menyerang Israel; Israel kemudian membalas dengan serangan udara besar-besaran dan invasi darat yang menurut Lebanon telah menewaskan lebih dari 4.300 orang.

Batas waktu mandat UNIFIL yang semakin dekat ini terjadi di tengah pendudukan berkelanjutan oleh pasukan Israel atas “zona keamanan” yang mereka tetapkan sendiri, yang membentang sekitar 10 kilometer (enam mil) ke dalam wilayah Lebanon selatan di sepanjang perbatasan.

Tingkat kekerasan telah menurun sejak adanya kesepahaman antara AS dan Iran pada Bulan Juni, serta kerangka kerja Lebanon-Israel yang disponsori AS dan disepakati pada akhir bulan yang sama.

Kesepakatan kerangka kerja tersebut mencakup pelucutan senjata Hizbullah, penarikan bertahap pasukan Israel dari Lebanon selatan, serta pengerahan tentara Lebanon ke wilayah itu – dimulai dari area uji coba yang disebut sebagai “zona percontohan” – namun prosesnya sebagian besar telah terhenti.

Diketahui, UNIFIL telah bertindak sebagai penyangga antara Israel dan Lebanon sejak tahun 1978, namun keberadaannya tidak mampu mencegah terjadinya beberapa gelombang konflik.

Di bawah tekanan AS, Dewan Keamanan PBB tahun lalu memutuskan untuk mengakhiri mandat UNIFIL pada 31 Desember 2026.

Pekan lalu, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas saat berkunjung ke Lebanon menegaskan dukungan blok tersebut untuk memperpanjang mandat UNIFIL, memperingatkan risiko terjadinya kekosongan keamanan.

Di sisi lain, Prancis dan Italia telah menyatakan keinginannya untuk membentuk koalisi multinasional untuk menggantikan peran UNIFIL.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *