Inflasi AS Lampaui Perkiraan, Indeks Dolar Tembus Level Tertinggi 18 Bulan


JAKARTA – Indeks dolar Amerika Serikat naik ke level tertinggi dalam 18 bulan setelah inflasi September melampaui perkiraan pasar. Kondisi itu membuat investor kembali mencermati arah kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed.

Menurut Anadolu Agency, dikutip Rabu, 14 Oktober, indeks dolar yang mengukur kekuatan mata uang AS terhadap enam mata uang utama naik 0,57 persen menjadi 102,75 pada Rabu setelah laporan inflasi dirilis.

Penguatan dolar ikut menekan euro. Mata uang tunggal Eropa itu turun 0,7 persen menjadi 1,112 dolar AS.

Biro Statistik Tenaga Kerja AS mencatat indeks harga konsumen naik 3,7 persen secara tahunan pada September. Angka tersebut meningkat dari 3,4 persen pada Agustus dan lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 3,6 persen.

Secara bulanan, harga konsumen naik 0,6 persen. Sebulan sebelumnya, kenaikannya tercatat 0,4 persen.

Harga bensin menjadi pendorong terbesar kenaikan bulanan. Harganya melonjak 9,1 persen dan menyumbang lebih dari separuh kenaikan keseluruhan.

Harga energi secara umum naik 5,2 persen, sedangkan biaya tempat tinggal meningkat 0,4 persen.

Tekanan harga juga terlihat pada inflasi inti, yakni ukuran inflasi yang tidak memasukkan harga pangan dan energi karena cenderung lebih bergejolak.

Inflasi inti naik menjadi 2,6 persen secara tahunan dari 2,4 persen pada Agustus. Secara bulanan, inflasi inti tetap 0,3 persen.

Kenaikan inflasi umum dan inflasi inti membuat perhatian pasar kembali tertuju pada langkah The Fed dalam menentukan arah suku bunga.

Suku bunga AS yang lebih tinggi dapat menopang dolar karena membuat aset berbasis dolar AS lebih menarik bagi investor.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *