Gas Industri Bermasalah, Kadin Ingatkan Produksi dan Investasi Bisa Terganggu


JAKARTA – Kamar Dagang dan Industri Indonesia meminta pemerintah segera menuntaskan persoalan pasokan dan harga gas bumi untuk industri. Ketidakpastian gas dinilai mulai menekan produksi, rencana investasi, dan tenaga kerja di sejumlah sektor.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perindustrian Saleh Husin mengatakan masalah gas industri bukan persoalan baru. Dua isu utama yang belum tuntas adalah kepastian pasokan dan harga yang terjangkau bagi industri dalam negeri.

Saleh meminta pemerintah mengevaluasi kembali prioritas pemanfaatan gas nasional. Sebagian gas yang selama ini diekspor dinilai dapat dipertimbangkan untuk memenuhi kebutuhan industri domestik dengan tetap memperhatikan kontrak, harga, dan aturan yang berlaku.

“Hal terpenting bukan hanya menarik investor baru, melainkan juga merawat industri yang sudah beroperasi di dalam negeri,” kata Saleh di Jakarta, dikutip dari Antara, Selasa, 13 Oktober.

Kadin juga meminta koordinasi antarkementerian dan lembaga diperkuat agar kebijakan gas industri tidak tersendat kepentingan sektoral. Pengawasan dinilai perlu diperketat, termasuk kemungkinan membentuk badan khusus yang menangani kebutuhan gas industri.

Tekanan paling nyata mulai terlihat di industri keramik. Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia atau ASAKI mencatat sekitar 1.500 pekerja telah terdampak, sedangkan rencana ekspansi senilai Rp12 triliun terancam tertunda akibat ketidakpastian pasokan dan harga gas.

Ketua ASAKI Edy Suyanto mengatakan pembatasan pasokan kembali terjadi sejak pertengahan September 2026. Padahal, industri sebelumnya berharap Keputusan Menteri ESDM Nomor 281.K/2026 dapat memberi kepastian pasokan dan harga.

“Implementasinya tidak berjalan sesuai harapan,” ujar Edy.

ASAKI memperkirakan harga gas rata-rata seharusnya bisa berada di kisaran 8 hingga 8,5 dolar AS per MMBTU melalui kombinasi skema Harga Gas Bumi Tertentu atau HGBT dan biaya regasifikasi LNG.

Namun, akses HGBT yang hanya mencakup sekitar 40 persen kebutuhan membuat harga rata-rata gas industri di Jawa bagian barat mencapai sekitar 12 dolar AS per MMBTU. Di wilayah timur, harganya sekitar 9 dolar AS per MMBTU.

Kondisi itu ikut menekan tingkat pemakaian kapasitas produksi industri keramik. Setelah berada di level 75 persen pada Januari hingga Agustus 2026, utilisasi diperkirakan turun di bawah 70 persen pada Oktober.

Jika kondisi berlanjut, utilisasi produksi berpotensi turun lagi hingga sekitar 60 persen pada November dan Desember.

Ketua Forum Industri Pengguna Gas Bumi Yustinus Gunawan juga mengatakan pembatasan pasokan menyulitkan perusahaan mempertahankan produksi dan memenuhi pesanan pelanggan.

Ia meminta pemerintah membatalkan pembatasan pasokan agar kebijakan gas industri dapat berjalan sesuai aturan yang berlaku.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *