Target 13 Juta Motor Listrik 2030, Bamsoet Soroti Ketergantungan Komponen Impor


JAKARTA – Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Bambang Soesatyo atau Bamsoet menyoroti ketergantungan terhadap komponen impor di tengah target pemerintah mengembangkan sekitar 13 juta sepeda motor listrik pada 2030. Menurut Bamsoet, peningkatan produksi harus sekaligus memperkuat industri dan rantai pasok di dalam negeri.

Bamsoet menyampaikan hal itu saat menghadiri peluncuran sepeda motor GODA Galactic Series di Jakarta, Minggu, 11 Oktober.

“Target 13 juta motor listrik pada tahun 2030 harus disertai langkah nyata. Masyarakat akan beralih jika kendaraan listrik terbukti ekonomis, aman, nyaman, dan mudah dirawat,” kata Bamsoet.

Menurut Bamsoet, keberhasilan transisi tidak cukup diukur dari banyaknya kendaraan listrik yang terjual. Kepercayaan dan kepuasan pengguna juga menjadi faktor penting.

Indonesia dinilai memiliki pasar besar untuk elektrifikasi kendaraan roda dua. Populasi sepeda motor telah melampaui 145 juta unit.

Data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia atau AISI mencatat penjualan sepeda motor di dalam negeri sepanjang 2025 mencapai 6.412.769 unit.

Bamsoet mengatakan besarnya pasar harus dimanfaatkan untuk membangun kemampuan produksi nasional, menyerap tenaga kerja lokal, meningkatkan penggunaan komponen dalam negeri, serta mengembangkan teknologi sendiri.

“Kita harus memastikan kendaraan listrik yang digunakan masyarakat semakin banyak diproduksi di Indonesia, melibatkan tenaga kerja lokal, menggunakan komponen dalam negeri, dan membangun kemampuan teknologi nasional,” ujarnya.

Ia juga menyoroti rencana pemerintah memberikan insentif kepada perusahaan Indonesia yang mampu memproduksi satu juta sepeda motor listrik di dalam negeri.

Menurut Bamsoet, insentif harus disertai kriteria yang jelas. Mulai dari realisasi investasi, peningkatan kapasitas produksi, penyerapan tenaga kerja, penguatan rantai pasok lokal hingga pengembangan riset dan teknologi.

Dukungan negara, kata Bamsoet, juga harus menghasilkan manfaat ekonomi yang sebanding dengan anggaran yang dikeluarkan.

“Insentif harus tepat sasaran dan memberikan manfaat nyata bagi perekonomian. Kita membutuhkan industri yang mampu menghasilkan produk berkualitas dengan harga kompetitif, memperluas lapangan kerja, dan mengembangkan teknologi sendiri,” katanya.

Bamsoet menegaskan kenaikan produksi jangan sampai hanya memperbesar pasar tanpa memperkuat industri nasional.

“Jangan sampai produksi meningkat, tetapi ketergantungan terhadap komponen impor tetap tinggi,” ujarnya.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *