NANJING – Ketika melangkahkan kaki keluar dari Bandara Internasional Nanjing Lukou, China, Minggu 11 Oktober, saya langsung disuguhkan oleh satu pemandangan yang merefleksikan matangnya ekosistem digital perkotaan.
Perjalanan menuju hotel dengan kendaraan sejenis Hiace yang memakan waktu sekitar 34 menit memberikan saya pengalaman nyata tentang bagaimana China menjadi salah satu negara yang ‘futuristik’.
Sebagai seorang jurnalis teknologi yang baru pertama kali menjajaki kaki di China, saya mengalami langsung bagaimana infrastruktur transportasi beroperasi tanpa melibatkan kartu fisik atau tiket kertas.
Hal tersebut langsung terasa ketika Hiace yang saya tumpangi melintas di gerbang tol lintas kota. Sang pengemudi sama sekali tidak menghentikan kendaraan secara penuh, apalagi membuka jendela untuk menempelkan kartu uang elektronik.
Pengemudi hanya perlu mengurangi kecepatan mobilnya, sementara sistem di balik gerbang tol akan mengenali kendaraan tersebut secara instan.
Sebagai informasi, mayoritas lajur di tol bandara ini didominasi oleh jalur ETC (Electronic Toll Collection). Mobil yang dilengkapi alat transponder On-Board Unit (OBU) kecil di kaca depan hanya perlu melaju konstan dengan kecepatan sekitar 20–30 km/jam.
Pemindai di atas gerbang akan langsung mendeteksi perangkat secara instan melalui gelombang radio, yang kemudian memotong saldo digital, dan membuka palang secara otomatis.
Sementara bagi kendaraan lain yang tidak menggunakan alat ETC, sistem mengandalkan teknologi ANPR/LPR (Automatic/License Plate Recognition) atau Pengenal Pelat Nomor Otomatis.
Kamera beresolusi tinggi di gerbang tol langsung menangkap gambar pelat nomor mobil saat melaju. Karena pelat nomor di China dapat langsung ditautkan (binding) ke ekosistem pembayaran digital pemiliknya—seperti WeChat Pay, Alipay, atau rekening bank—sistem tol secara otomatis memotong tarif begitu kendaraan melintas.
Pola otomatisasi serupa juga menyambut saat kendaraan tiba di area parkir hotel. Saya tidak melihat adanya ritual menekan tombol mesin tiket atau menunggu karcis tercetak.
Pengemudi cukup menghentikan mobil sejenak di depan palang pintu, dan sistem berbasis pemindaian langsung membukanya secara otomatis.
Pengalaman ini membuktikan bagaimana pemanfaatan data dan infrastruktur digital mampu mengeliminasi antrean panjang yang selama ini menjadi momok di sektor transportasi konvensional.
Melihat bagaimana teknologi merangkai efisiensi perjalanan tanpa celah di Nanjing, pikiran saya tentu saja melayang kembali ke Indonesia.
Di tengah berbagai upaya modernisasi infrastruktur dan transisi sistem pembayaran nirsentuh—seperti pengembangan Multi Lane Free Flow (MLFF) pada jalan tol, sambutan teknologi dari China ini sekaligus menjadi catatan penting untuk melihat arah masa depan transformasi digital transportasi Indonesia.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
