
JAKARTA — Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan menegaskan negaranya tidak akan menjadi alat atau kartu tawar-menawar dalam persaingan Amerika Serikat (AS) dan China. Ia memperingatkan, jika dipaksa memilih salah satu pihak, keputusan Singapura justru berpotensi tidak memuaskan kedua negara adidaya tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Balakrishnan dalam Milken Institute Asia Summit di Singapura. Ia menegaskan negaranya akan mempertahankan kemandirian strategis serta menjaga hubungan dengan Washington dan Beijing selama hal tersebut masih memungkinkan.
“Sejauh yang kami bisa, kami akan menolak untuk memilih. Sebab, begitu memilih, Anda kehilangan pilihan dan ruang gerak strategis,” ujarnya, seperti dikutip dari portal berita Singapura, Mothership, Sabtu 10 Oktober.
Balakrishnan juga menegaskan Singapura tidak ingin dimanfaatkan oleh salah satu pihak untuk kepentingan persaingan geopolitik.
“Jika Singapura dipaksa memilih salah satu dari kalian, kalian mungkin tidak akan menyukai jawaban akhirnya,” katanya.
Menurut Balakrishnan, hubungan dengan AS dan China sama-sama memiliki arti penting bagi kepentingan ekonomi dan strategis Singapura. Karena itu, pemerintahnya berupaya menjaga hubungan baik dengan kedua negara tanpa mengorbankan kebebasan menentukan kebijakan nasional.
AS merupakan salah satu mitra penting Singapura dalam bidang investasi, teknologi, dan perdagangan. Negara kota tersebut menerima lebih dari separuh total investasi langsung asing (FDI) AS yang mengalir ke Asia Tenggara.
“Jadi, apakah Amerika penting bagi Singapura sebagai sumber investasi langsung asing, sumber teknologi, dan pasar utama? Ya, tentu saja,” ujar Balakrishnan.
Di sisi lain, Singapura memiliki hubungan sejarah dan budaya yang erat dengan China. Sekitar 74 persen penduduk Singapura merupakan keturunan China. Namun, kedekatan demografis dan budaya tersebut tidak berarti Singapura harus selalu mengikuti kebijakan Beijing.
Balakrishnan menekankan bahwa identitas Singapura sebagai negara multiras dan multibahasa di Asia Tenggara menjadi salah satu landasan dalam menentukan arah kebijakan luar negeri.
Ia menegaskan Singapura akan tetap menjalankan diplomasi yang jelas dan berprinsip, sekaligus menjaga hubungan dengan berbagai negara berdasarkan kepentingan nasionalnya.
Sikap tersebut mencerminkan upaya Singapura mempertahankan ruang gerak strategis di tengah persaingan AS dan China yang mencakup perdagangan, teknologi, investasi, serta pengaruh geopolitik di kawasan Indo-Pasifik.
Bagi Singapura, menjaga hubungan dengan kedua kekuatan besar bukan sekadar pilihan diplomatik, melainkan bagian penting dari strategi mempertahankan stabilitas ekonomi dan keamanan. Dengan tidak terikat sepenuhnya pada salah satu pihak, Singapura berupaya memastikan kepentingan nasional tetap menjadi dasar utama dalam setiap keputusan luar negerinya.
Pertajam lead agar lebih ringkasHilangkan analisis tambahan di penutup
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
