JAKARTA – Eksekutif produser Imperial Pictures, Peter Surya Wijaya, melebarkan eksplorasinya di industri perfilman Tanah Air lewat proyek teranyar berjudul Ghosthing. Mengusung genre horor komedi, Peter mengaku terpikat dengan premis cerita yang tak hanya memacu ketegangan, tetapi juga sanggup mengocok perut penonton.
Film ini mempertemukan Baskara Mahendra sebagai Alfian, seorang perias jenazah, dan Yasamin Jasem yang memerankan Maya, arwah influencer cerewet yang kematiannya masih diselimuti teka-teki misteri.
Peter mengungkapkan, perpaduan dua elemen kontras—horor dan tawa—menjadi alasan utama dirinya mantap mengembangkan film ini bersama tim kreatif.
“Waktu saya lihat Ghosthing, itu sangat menarik dari arwahnya, dari ceritanya sangat mampu membawa lucu. Jadi, kita dengan tim kreatif dan produser yang lain ikut mengembangkan film ini,” ujar Peter saat ditemui VOI di sela gala premiere Ghosthing di Senayan City XXI, Jakarta Selatan, Jumat, 9 Oktober.
Meski sebelumnya telah banyak terlibat dalam deretan produksi film bergenre drama dan horor, Peter memandang Ghosthing sebagai ruang pembelajaran untuk meracik komedi yang segar dan menghibur.
“Biar kita nonton film komedi bisa ketawa, bisa lebih santai. Kita lagi belajar bagaimana untuk membuat film komedi,” imbuhnya.
Tak sekadar menyokong pendanaan, Peter turun langsung dalam proses pengembangan cerita, kurasi sutradara, hingga pemilihan para pemeran. Dari sekian banyak elemen produksi, penampilan Yasamin Jasem menjadi salah satu sorotan yang membuatnya berdecak kagum.
Peter menilai, Yasamin berhasil keluar dari zona nyamannya. Dikenal berkepribadian tenang dan pendiam di kehidupan nyata, aktris muda berbakat itu justru tampil luwes dan sangat cerewet saat membawakan karakter Maya.
“Apalagi dengan Yasamin, saya suka sekali akting dia. Dengan karakternya itu luar biasa,” puji Peter.
“Biasanya Yasamin enggak terlalu cerewet, ya. Dia orangnya lebih pendiam. Tapi kalau di situ, dengan cara omongannya, cerewetnya luar biasa. Ada beberapa adegan yang saya ingat, saat dia sebagai arwah masuk ke badan Baskara. Menurut saya, itu cukup lucu,” sambungnya sembari tersenyum.
Bagi Peter, tantangan utama dalam menggarap Ghosthing terletak pada menjaga keseimbangan antara formula cerita, kesiapan tim produksi, dan target audiens. Komunikasi intens serta kepercayaan penuh terhadap sutradara dan kru menjadi kunci lahirnya karya yang solid.
Tak hanya menyasar penonton domestik, Peter turut menaruh asa agar karya lokal seperti Ghosthing dapat membuka jalan ke panggung global.
“Kita belajar, kita expand bagaimana untuk berkembang ke internasional. Biar film Indonesia kita semua bisa ke internasional. Semoga nanti, doain,” tuturnya penuh harap.
Menatap tahun depan, Imperial Pictures telah menyiapkan sederet amunisi baru dari berbagai spektrum genre, mulai dari drama, horor, hingga komedi lanjutan yang saat ini masih dalam meja pengembangan.
Bagi para penikmat film yang penasaran dengan dinamika kocak antara arwah Yasamin Jasem dan perias jenazah Baskara Mahendra, Ghosthing siap gentayangan serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 15 Oktober 2026.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
