Dibuang VOC hingga Afrika Selatan, Jejak Syekh Yusuf Disorot di Amsterdam


AMSTERDAM – Perjalanan Syekh Yusuf Al-Makassari dari Gowa, melawan VOC hingga akhirnya diasingkan ke Afrika Selatan kembali diangkat dalam peringatan 400 tahun kelahirannya di Amsterdam, Belanda. Pemerintah Indonesia menilai jejak ulama dan pemikir sufi itu menunjukkan pengaruh Nusantara yang melintasi batas negara dan zaman.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan Syekh Yusuf bukan hanya tokoh agama, tetapi juga pejuang antikolonial yang meninggalkan pengaruh intelektual dan spiritual hingga Afrika Selatan.

Peringatan 400 tahun kelahiran Syekh Yusuf digelar di Indonesia House Amsterdam, Jumat, 9 Oktober. Peringatan tersebut juga masuk dalam komemorasi tokoh dan peristiwa bersejarah UNESCO periode 2026–2027.

“Perjalanan Syekh Yusuf dari Gowa menuju berbagai pusat keilmuan di dunia Islam, hingga pengasingannya akibat perlawanan terhadap VOC, mencerminkan bagaimana gagasan dan nilai-nilai kemanusiaan dapat melampaui batas wilayah, kekuasaan, dan zaman,” kata Fadli.

Syekh Yusuf lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, pada 1626. Ia menempuh perjalanan intelektual melalui sejumlah pusat keilmuan di Nusantara, India hingga Timur Tengah.

Selain dikenal sebagai ulama dan pemikir sufi, Syekh Yusuf terlibat dalam perlawanan terhadap VOC di Banten bersama Sultan Ageng Tirtayasa.

Ia ditangkap pada 1683, kemudian diasingkan ke Ceylon, kini Sri Lanka, pada 1684. Pemerintah kolonial Belanda kembali memindahkannya ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan, pada 1693.

Pengasingan ternyata tidak memutus pengaruh Syekh Yusuf. Menurut Fadli, ia tetap mengajar dan ikut membentuk komunitas Muslim awal yang terorganisasi di Afrika Selatan.

“Di Afrika Selatan, ia terus mengajar dan berperan penting dalam membentuk komunitas Muslim awal yang terorganisasi, bahkan dikenal luas sebagai Bapak Islam di Afrika Selatan,” ujar Fadli.

Jejak Syekh Yusuf masih dapat ditemukan melalui situs kramat dan kawasan Macassar di dekat Cape Town yang mengambil nama dari daerah asalnya di Nusantara.

“Perjalanan Syekh Yusuf juga merupakan kisah perlawanan, pengasingan, dan keteguhan dalam memperjuangkan kemerdekaan. Pengasingan tidak membungkam beliau. Sebaliknya, gagasan dan ajarannya terus hidup serta memberikan pengaruh bagi masyarakat lintas generasi,” kata Fadli.

Peringatan di Amsterdam juga membawa sejarah Syekh Yusuf kembali ke Belanda, negara yang memiliki kaitan langsung dengan pengasingannya pada masa kolonial.

Fadli mengatakan ruang dialog diperlukan untuk memperdalam kajian sejarah, termasuk kolonialisme dan pengasingan, sekaligus memperkuat hubungan kebudayaan Indonesia dan Belanda.

Pemerintah juga tengah mengembangkan rencana pendirian Rumah Budaya Indonesia dan Museum Syekh Yusuf di kawasan Macassar, Cape Town.

Fadli mengatakan fasilitas tersebut diharapkan menjadi pusat pelestarian sejarah, pendidikan dan penelitian sekaligus memperkuat hubungan kebudayaan Indonesia dengan masyarakat Afrika Selatan.

Ia menyebut Menteri Kebudayaan Afrika Selatan Gayton McKenzie menyampaikan jumlah komunitas Cape Malay saat ini sekitar 2,7 juta orang.

Peringatan 400 tahun Syekh Yusuf di Amsterdam juga diisi pameran “Sacred Journey of Syekh Yusuf Al-Makassari” pada 9–15 Oktober 2026 serta seminar internasional yang membahas jaringan intelektual, pemikiran spiritual, perlawanan terhadap kolonialisme dan memori kolektif masyarakat di kawasan Samudra Hindia.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *