YOGYAKARTA — Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta menyatakan penyelenggaraan Wayang Jogja Night Carnival (WJNC) 2026 di kawasan Malioboro tidak sekadar menyajikan atraksi seni budaya bagi para wisatawan. Event tahunan ini terbukti memberikan dampak ekonomi langsung serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Lucia Daning Krisnawati, mengungkapkan bahwa tingginya antusiasme pengunjung di kawasan Malioboro selama ajang berlangsung memicu lonjakan aktivitas belanja wisatawan.
“Wisatawan pada belanja sehingga perekonomian bisa bergerak dan kesejahteraan masyarakat Kota Yogyakarta melalui pariwisata bisa diwujudkan bersama-sama,” ujar Lucia di Yogyakarta.
Tingkatkan Length of Stay dan Belanja Wisatawan
Lucia menjelaskan bahwa pendekatan strategi aktivasi kawasan yang melibatkan komunitas—seperti dalam Pawai Ekosistem Malioboro—memberikan efek ganda (multiplier effect) bagi ekosistem pariwisata daerah.
Keterlibatan aktif ini dinilai efektif memperpanjang durasi tinggal (length of stay) para pelancong sekaligus meningkatkan volume transaksi belanja produk-produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
“Length of stay-nya dapat, pemberdayaan masyarakat melalui UMKM dapat, spending money-nya juga dapat,” tegas Lucia.
Rangkaian acara puncak Hari Ulang Tahun (HUT) ke-270 Kota Yogyakarta ini berlangsung secara maraton:
- Senin (5/10): Pertunjukan musik live dari band-band komunitas lokal di sepanjang kawasan Malioboro.
- Selasa (6/10): Pawai komunitas ekosistem Malioboro.
- Rabu (7/10): Pawai Budaya Nuswantoro yang melibatkan kolaborasi dari tujuh pemerintah daerah.
- Puncak Acara: Pentas kebudayaan WJNC di Titik Nol Kilometer yang menampilkan potensi seni budaya unggulan dari 14 kemantren (kecamatan) se-Kota Yogyakarta.
Menerjemahkan Tema “Otentik Konkret” demi Manfaat Warga
Sementara itu, Penjabat Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyampaikan bahwa partisipasi luas dari elemen masyarakat dan komunitas ini selaras dengan arahan tema besar peringatan tahun ini, yaitu “Otentik Konkret”.
Tema tersebut dirancang untuk mendorong warga mempromosikan keunikan identitas daerah sekaligus menuangkannya dalam tindakan riil yang bernilai ekonomi serta sosial.
“Kita ingin mengangkat hal-hal yang menjadi ciri khas Kota Yogyakarta sebagai kota budaya, kota pariwisata, kota pendidikan, kota pelajar, dan tentu banyak kearifan yang otentik di Kota Yogyakarta,” kata Hasto.
Hasto menegaskan bahwa kebudayaan tidak boleh berhenti pada tataran wacana atau nilai estetika belaka. Karakter lokal yang kuat harus mampu memberikan manfaat nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat setempat.
“Kita ingin menerjemahkan bagaimana hal-hal yang otentik itu kemudian bisa diterjemahkan dalam langkah-langkah konkret yang bisa dinikmati oleh warga masyarakat,” pungkasnya.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
