Satu dari Delapan Kasus Kanker Dunia Terkait Infeksi, Capai 2,3 Juta Kasus


JAKARTA – Sekitar 2,3 juta kasus kanker baru di dunia pada 2024 berkaitan dengan infeksi virus, bakteri, dan parasit. Jumlah itu setara dengan 12 persen atau sekitar satu dari delapan kasus kanker baru secara global.

Menurut Euronews, dikutip Sabtu, 3 Oktober, menyebut angka tersebut berasal dari studi International Agency for Research on Cancer atau IARC, lembaga kanker di bawah Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO.

Penelitian menunjukkan beban kanker terkait infeksi tidak tersebar merata. Hampir tiga perempat kasus terjadi di negara berpendapatan rendah dan menengah.

“Meski sudah ada kemajuan dalam vaksinasi dan skrining, kanker yang berkaitan dengan infeksi masih menjadi tantangan besar secara global,” kata Harriet Rumgay, ilmuwan di Cancer Surveillance Branch IARC sekaligus salah satu penulis studi.

Menurut Rumgay, temuan tersebut menunjukkan pengendalian infeksi dapat memainkan peran besar dalam menekan beban kanker dunia.

Penyumbang terbesar adalah Helicobacter pylori atau H. pylori, bakteri yang menginfeksi lambung dan juga dapat menyebabkan tukak lambung.

Bakteri ini dikaitkan dengan sekitar 760.000 kasus kanker baru pada 2024 atau 4 persen dari seluruh kasus kanker.

H. pylori berkaitan dengan tiga jenis kanker, yakni kanker lambung kardia dan non-kardia, serta salah satu jenis limfoma non-Hodgkin yang berkembang di lambung.

Human papillomavirus atau HPV berada di posisi berikutnya dengan sekitar 750.000 kasus baru, disusul virus hepatitis B atau HBV.

HPV dapat menyebabkan delapan jenis kanker, antara lain kanker serviks, penis, dan laring. Para peneliti mencatat seluruh kasus kanker serviks dapat dikaitkan dengan HPV.

Karena itu, vaksinasi dan skrining menjadi bagian penting dalam strategi pencegahan kanker yang berkaitan dengan virus tersebut.

Studi juga menyoroti Epstein-Barr virus atau EBV, salah satu virus yang paling umum menginfeksi manusia. Hingga kini belum tersedia vaksin EBV yang disetujui.

Gary Clifford, salah satu penulis senior studi, mengatakan infeksi EBV dapat menyebabkan enam jenis kanker, termasuk kanker tenggorokan dan lambung.

Secara keseluruhan, penelitian mengidentifikasi 12 agen infeksius yang bersifat karsinogenik atau dapat menyebabkan kanker pada manusia.

Perbedaan antarwilayah cukup lebar.

Asia Timur mencatat sekitar 990.000 kasus kanker terkait infeksi pada 2024 atau 42 persen dari total dunia. Sebagian besar kasus berkaitan dengan H. pylori dan hepatitis B.

Afrika Sub-Sahara memiliki proporsi tertinggi. Sekitar seperempat dari seluruh kasus kanker di kawasan tersebut berkaitan dengan infeksi, terutama kanker yang berhubungan dengan HPV.

Sebaliknya, Eropa Utara, Barat dan Selatan, Amerika Utara, serta Oseania mencatat beban yang lebih rendah.

Para peneliti menilai perbedaan itu juga mencerminkan kesenjangan dalam strategi pencegahan.

Jepang, Korea Selatan, dan China, misalnya, telah menjalankan program skrining berbasis populasi menggunakan endoskopi untuk mendeteksi kanker lambung.

Karena endoskopi relatif mahal dan invasif, sejumlah negara Eropa mulai menguji program screen-and-treat terhadap H. pylori. Infeksi dideteksi dengan pemeriksaan noninvasif, kemudian ditangani menggunakan antibiotik yang sesuai.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *