Indonesia Siapkan Rumah Budaya dan Museum di Cape Town, Angkat Jejak Syekh Yusuf


JAKARTA – Kementerian Kebudayaan menyiapkan rencana pendirian rumah budaya dan museum Indonesia di Cape Town, Afrika Selatan. Program itu akan mengangkat jejak panjang hubungan Indonesia dan Afrika Selatan, termasuk warisan Syekh Yusuf al-Makassari.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan sejarah Syekh Yusuf menjadi salah satu pijakan penting untuk memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara.

Syekh Yusuf pernah diasingkan pemerintah kolonial Belanda ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan, pada 1693 setelah sebelumnya ditangkap karena mendukung Sultan Ageng Tirtayasa dalam perlawanan terhadap VOC.

“Pengasingan Syekh Yusuf dimaksudkan untuk memisahkannya dari masyarakat dan jaringan yang selama ini mendukung perjuangannya. Namun, gagasan dan pengaruhnya tidak pernah terputus,” kata Fadli saat membuka pameran There Was Something Here Before di Erasmus Huis, Jakarta, Jumat, 2 Oktober.

Menurut Fadli, Syekh Yusuf tetap mengajar di Cape Town dan kemudian menjadi bagian penting dari kehidupan spiritual serta komunitas setempat.

Warisan itu, kata Fadli, masih terlihat melalui makam Syekh Yusuf dan masyarakat yang tumbuh di sekitar sejarah tersebut.

Kementerian Kebudayaan juga menyiapkan pameran Sacred Journey of Sheikh Yusuf Al Makasari: Legacy of Knowledge, Freedom, and Humanity di Indonesia House Amsterdam, Belanda.

Pameran tersebut akan dilengkapi seminar ilmiah internasional dan pemutaran film.

“Kita ingin membangun kesinambungan dialog kebudayaan dari Jakarta, Amsterdam, hingga Cape Town,” ujar Fadli.

Menurut Fadli, rumah budaya dan museum Indonesia di Cape Town diharapkan menjadi jembatan yang memperkuat hubungan Indonesia dan Afrika Selatan.

Jejak hubungan itu juga menjadi tema utama pameran There Was Something Here Before karya Zahira Asmal yang berlangsung di Erasmus Huis pada 3 Oktober hingga 23 Desember 2026.

Pameran tersebut menelusuri perpindahan manusia melintasi Samudra Hindia selama lebih dari tiga abad dan kontribusi masyarakat asal Indonesia terhadap kehidupan Cape Town.

Zahira mengatakan masyarakat yang datang dari Jawa, Sumatra, Sulawesi, dan sejumlah wilayah lain membawa pengetahuan, kepercayaan, bahasa, makanan, keterampilan, serta tradisi.

“Banyak dari mereka berasal dari Indonesia dan terus membentuk kehidupan Cape Town hingga hari ini,” katanya.

Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia Marc Gerritsen mengatakan sejarah yang menghubungkan Indonesia, Afrika Selatan, Sri Lanka, dan Belanda tidak hanya tersimpan dalam dokumen dan arsip.

Jejak itu juga hidup dalam ingatan, benda, suara, fotografi, dan pengalaman masyarakat lintas generasi.

Pameran There Was Something Here Before menggunakan pendekatan multimedia interaktif dengan memadukan penelitian, arsip, fotografi, suara, seni, kesaksian personal, dan desain.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *