Pembukaan Kembali Selat Hormuz Bergantung pada Jaminan AS untuk Mengakhiri Perang


JAKARTA – Otoritas Iran pada Hari Kamis mengatakan, pembukaan kembali Selat Hormuz bergantung pada pemberian “jaminan objektif” oleh Amerika Serikat untuk mengakhiri perang di semua lini serta pemenuhan komitmen berdasarkan inisiatif diplomatik tujuh hari yang diajukan oleh Teheran, menurut kantor berita resmi IRNA.

Wakil Menteri Luar Negeri Saeed Khatibzadeh mengatakan kepada saluran televisi Russia-1, Tehran juga menginginkan pencairan aset Iran yang dibekukan, pencabutan blokade, dan langkah-langkah lainnya.

Inisiatif tujuh hari Iran tersebut menjabarkan serangkaian langkah timbal balik di mana Washington akan terlebih dahulu melaksanakan langkah-langkah yang diminta oleh Teheran, termasuk mengakhiri permusuhan, mencairkan aset Iran yang dibekukan, mencabut pembatasan minyak, dan mengakhiri blokade laut.

Setelah itu, Iran akan siap untuk membuka kembali Selat Hormuz dan memulai negosiasi mengenai kesepakatan akhir dalam kerangka waktu tujuh hari tersebut.

Khatibzadeh mengatakan Tehran menyampaikan inisiatif itu kepada Washington melalui Qatar dan kemudian menerima tanggapan AS melalui mediator Qatar.

Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyampaikan tanggapan awal Iran kepada mediator tersebut saat singgah sebentar dalam perjalanan pulangnya dari New York, tambahnya.

“Bola kini ada di tangan AS,” ujar Khatibzadeh, dikutip dari Anadolu (2/10)

Lebih lanjut ia mengatakan Tehran terus mengupayakan solusi diplomatik meskipun terjadi apa yang ia sebut sebagai pelanggaran berulang oleh AS terhadap kesepakatan sebelumnya, sembari tetap mempertahankan kesiapan pertahanan maksimal untuk “skenario apa pun.”

Upaya diplomatik ini menyusul kesepakatan Islamabad yang dicapai antara Iran dan AS pada 18 Juni dengan mediasi dari Pakistan dan Qatar.

Kesepakatan tersebut mencakup ketentuan untuk mengakhiri permusuhan, membuka kembali Selat Hormuz, dan memulai putaran negosiasi baru.

Namun, pelaksanaannya kemudian terhenti di tengah ketegangan yang kembali memuncak antara Tehran dan Washington.

Diketahui, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, yang memicu Teheran untuk melakukan serangan balasan terhadap target-target Israel dan fasilitas militer AS di seluruh kawasan.

Perang tersebut juga sangat mengganggu pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur utama bagi pasokan energi global.

Sejak saat itu, Iran mengaitkan pembukaan kembali selat tersebut secara penuh dengan berbagai langkah, termasuk penghentian permusuhan, pelonggaran sanksi, pencairan aset yang dibekukan, dan pelaksanaan komitmen yang menurut mereka telah dibuat oleh Washington sebelumnya.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *