IHSG Diprediksi Konsolidasi, Level 6.000 Jadi Penentu Pergerakan Jumat



JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak volatil pada perdagangan Jumat, 2 Oktober, setelah pada perdagangan sebelumnya kembali mengalami tekanan dan ditutup di bawah level psikologis 6.100.

Pada perdagangan Kamis, 1 Oktober, IHSG ditutup melemah 61,64 poin atau 1,02 persen ke level 6.009,50. Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak pada rentang 5.973,16-6.095,23.

Dengan penurunan tersebut, IHSG telah mengalami pelemahan selama empat hari perdagangan berturut-turut. Tekanan terutama datang dari saham-saham berkapitalisasi besar, antara lain GOTO, BBCA, dan BYAN.

Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana mengatakan IHSG pada perdagangan Jumat masih berpotensi berada dalam fase konsolidasi dengan volatilitas tinggi. Menurutnya, level 6.000 menjadi area psikologis penting yang akan dicermati pelaku pasar.

“Untuk besok, level 6.000 menjadi area psikologis yang sangat penting. Selama IHSG mampu bertahan di sekitar level tersebut, masih ada peluang terjadi technical rebound setelah empat hari perdagangan berturut-turut mengalami penurunan,” kata Hendra, dikutip IDXChannel, Kamis, 1 Oktober.

Sebaliknya, apabila IHSG kembali menembus ke bawah level 6.000, indeks berpotensi melanjutkan pelemahan menuju area 5.900.

Sementara itu, Hendra menyebut sinyal pemulihan tren baru akan terlihat apabila IHSG mampu menembus kisaran 6.100-6.150 dan diikuti peningkatan volume transaksi.

Tekanan terhadap IHSG juga datang dari faktor domestik. Inflasi Indonesia pada September 2026 meningkat menjadi 3,28 persen secara tahunan, dari 3,19 persen pada Agustus. Kondisi tersebut menjadi salah satu sentimen yang diperhatikan pasar.

Dari pasar valuta asing, rupiah juga melemah sekitar 0,40 persen hingga berada di level Rp17.966 per dolar AS pada perdagangan Kamis. Investor asing mencatatkan net sell sekitar Rp240 miliar, sementara akumulasi net sell investor asing di pasar reguler sepanjang tahun berjalan mencapai sekitar Rp107,4 triliun.

Sentimen eksternal turut menjadi perhatian. Harga minyak mentah Brent kembali mendekati 100 dolar AS per barel, sementara imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun berada di sekitar 5,32 persen. Kondisi tersebut dapat meningkatkan perhatian investor terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS.

Selain itu, pasar juga mencermati perkembangan kebijakan ekonomi pemerintah setelah perubahan susunan kabinet. Hendra mengatakan investor masih menunggu kepastian mengenai arah kebijakan fiskal, investasi, hilirisasi, daya beli masyarakat, serta koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia.

Dengan kondisi tersebut, pergerakan IHSG pada Jumat diperkirakan masih akan sangat bergantung pada kemampuan indeks mempertahankan level 6.000. Pelaku pasar juga akan mencermati pergerakan rupiah, arus modal asing, harga minyak, serta perkembangan pasar global.

Secara teknikal, level 6.000 menjadi support psikologis terdekat. Jika level tersebut bertahan, peluang technical rebound terbuka. Namun, jika kembali ditembus ke bawah, area 5.900 menjadi level berikutnya yang perlu diperhatikan. Sementara itu, area 6.100-6.150 menjadi resistance penting untuk melihat indikasi pemulihan.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *