BANDUNG – Penutupan Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) selama dua hari akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menyebabkan kerugian operasional yang diperkirakan mencapai Rp40 miliar.
Direktur Operasi Injourney Airports Agus Haryadi mengatakan kerugian tersebut merupakan perkiraan dari dampak penutupan sementara bandara tersebut.
“Kalau ngomong rugi, banyak ruginya. Rp 40 miliar ada kali dalam dua hari (penutupan Bandara Soetta) itu. Tapi tentu kami tidak memikirkan itu,” ujar Agus dalam Lokakarya Forum Wartawan Perhubungan di Badung, Jumat, 2 Oktober 2026.
Bandara Soetta ditutup secara total pada 6 September 2026 setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan adanya sebaran abu vulkanik berdasarkan hasil pengujian. Kemudian diperpanjang hingga tanggal 7 September 2026.
Agus mengatakan, penutupan seluruh Bandara Soetta tersebut baru terjadi saat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Dia bilang peristiwa ini pertama kali terjadi sejak tahun 1992.
Bahkan, sambung Agus, saat masa pandemi COVID-19 pun operasional Bandara Soetta tidak pernah ditutup secara total. Meski begitu, pemerintah memberlakukan protokol kesehatan dengan sangat ketat.
“COVID-19 pun tidak tutup. COVID itu tidak tutup, status bandara itu open (buka). Kalau ini kemarin (erupsi Gunung Anak Krakatau) benar-benar close,” ucapnya.
Agus mengatakan penutupan bandara turut berdampak terhadap penumpang. Saat normal, Bandara Soetta melayani sekitar 1.000 pergerakan pesawat dengan jumlah penumpang sekitar 130.000 orang per hari.
Dampaknya semakin luas karena pada waktu yang sama Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, Bandara Radin Inten II Lampung, dan Bandara Husein Sastranegara Bandung juga ditutup.
“Penumpangnya (total) mungkin yang terdampak ini sudah lebih dari 200.000,” kata Agus.
Untuk menangani penumpang terdampak, Injourney Airports mengaktifkan posko sesuai dengan prosedur operasi standar (SOP).
Posko tersebut dipantau selama 2 x 24 jam oleh pejabat terkait, termasuk Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi.
Injourney Airports juga menyediakan bus untuk mengangkut penumpang menuju sejumlah bandara lain di Pulau Jawa, seperti Solo, Yogyakarta, dan Surabaya.
Sementara penumpang yang masih tertahan di bandara turut diakomodasi di sejumlah tempat, termasuk fasilitas employee lounge.
“Ini adalah ruang istirahat untuk karyawan tetapi representatif, jadi cukup bagus, dan sebagian jemaah umroh yang sudah telanjur datang dari beberapa daerah seperti dari Palangkaraya kita tampung di situ. Ada kurang lebih 200-an,” ujarnya.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
