JAKARTA – Tambahan bea masuk hingga 114 persen yang dikenakan Amerika Serikat terhadap panel surya Indonesia membuka tekanan baru bagi ekspor. Namun, pemerintah melihat kondisi itu sebagai peluang untuk memperbesar penyerapan produksi di pasar domestik.
Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Elen Setiadi mengatakan industri panel surya nasional sebelumnya banyak mengandalkan pasar Amerika Serikat.
“Industri kita untuk solar panel sebelumnya itu kita ekspor ke Amerika. Namun beberapa waktu yang lalu, karena ada pengenaan tambahan yang masuk sampai 114 persen, maka sebenarnya potensi ini, peluang ini bisa kita serap di dalam negeri,” kata Elen di Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Rabu, 30 September.
Menurut Elen, kapasitas produksi modul surya nasional saat ini sudah mencapai sekitar 11 gigawatt per tahun. Kapasitas itu dinilai bisa menopang percepatan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya, termasuk program PLTS 100 gigawatt.
Kemenko Perekonomian mencatat terdapat 34 pabrikan modul surya di dalam negeri dengan kemampuan produksi tahunan 10.994 megawatt peak. Kapasitas maksimum modul yang bisa diproduksi sekitar 720 watt peak per unit, dengan rata-rata tingkat komponen dalam negeri 40-55 persen.
Program PLTS 100 GW sendiri diproyeksikan berpotensi menciptakan 5,5 juta lapangan kerja hijau, menekan emisi sekitar 140 juta ton CO2, serta menghasilkan penghematan hingga sekitar Rp74 triliun per tahun.
Namun, industri panel surya dalam negeri masih menghadapi sejumlah kendala.
Realisasi proyek PLTS masih rendah. Ketentuan TKDN minimum juga masih memungkinkan penggunaan modul impor. Selain itu, kuota PLTS atap dinilai terbatas, sementara permohonan dari sektor industri belum seluruhnya dapat dipenuhi.
Elen mengatakan penguatan pasar domestik perlu dibarengi pembangunan rantai pasok agar ketergantungan pada pasar global berkurang, terutama untuk bahan baku seperti wafer dan ingot.
Pemerintah juga mengusulkan insentif nonfiskal untuk mendorong penggunaan produk lokal. Salah satunya dengan memberikan kuota PLTS atap lebih besar bagi pengguna modul buatan dalam negeri.
“Kalau tadi target kita 100 GW itu bisa terjalankan, sebenarnya industri kita juga akan bisa kita kembangkan, dan saat ini potensi kita adalah sudah 11 GW,” ujar Elen.
Selain itu, pemerintah mendorong kemitraan perusahaan lokal dengan perusahaan global untuk memperkuat investasi, transfer teknologi, dan rantai pasok industri panel surya nasional.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
