PLN EPI Bidik 150 Ribu Lapangan Kerja dari Biomassa, Petani hingga UMKM Bisa Terlibat


JAKARTA – Limbah pertanian, sekam padi, dan kayu berpotensi menjadi sumber penghasilan baru bagi masyarakat. PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memperkirakan pemanfaatan 10 juta ton biomassa dapat membuka sekitar 150 ribu lapangan kerja hijau, mulai dari pengumpulan bahan baku hingga pengangkutannya ke pembangkit listrik.

Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir menyampaikan proyeksi tersebut dalam acara West Java Leader Fest, seperti dikutip dari Antara, Senin, 28 September. Ia mengatakan peluang kerja tidak hanya tersedia di pembangkit, tetapi juga terbuka bagi petani, koperasi, badan usaha milik desa (BUMDes), UMKM, dan perusahaan logistik.

“Green job yang tercipta dari 10 juta ton saja itu bisa mencapai sekitar 150 ribu lapangan kerja hijau baru,” kata Hokkop.

Biomassa merupakan bahan organik, seperti limbah kayu dan sisa pertanian, yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. PLN EPI mengembangkannya antara lain melalui cofiring, yakni mencampurkan biomassa dengan batu bara sebagai bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Selain membuka peluang pekerjaan, Hokkop memperkirakan pemanfaatan 10 juta ton biomassa dapat membantu mengurangi emisi sekitar 12 juta ton setara karbon dioksida (CO2e). Angka tersebut masih berupa proyeksi, bukan hasil pengurangan emisi yang telah dicapai.

PLN EPI mencatat Indonesia memiliki beragam sumber biomassa. Berdasarkan pemetaan perusahaan, pemanfaatan biomassa saat ini mencapai sekitar 30,7 juta ton, sedangkan potensi yang belum termanfaatkan diperkirakan mencapai 60,6 juta ton.

Namun, tidak seluruh potensi tersebut otomatis bisa diolah. Pemanfaatannya masih bergantung pada biaya produksi, kemudahan memperoleh bahan baku, akses transportasi, dan kesiapan jaringan pemasok.

Sepanjang 2023–2026, PLN EPI telah merealisasikan penyediaan biomassa sebesar 4,77 juta ton. Saat ini, lebih dari 77 persen pasokan untuk kebutuhan cofiring masih berasal dari biomassa berbasis kayu.

Perusahaan juga memetakan 52 lokasi PLTU dengan total kapasitas terpasang 18.154 megawatt (MW) yang berpotensi menggunakan campuran biomassa. Jika dikembangkan, kebutuhan bahan bakunya diperkirakan mencapai 9 juta ton per tahun.

Peluang tersebut berkaitan dengan rencana penambahan pembangkit energi terbarukan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034. Dalam skenario ARED, PLN merencanakan tambahan kapasitas energi terbarukan sebesar 12,22 gigawatt (GW) pada 2025–2029, atau 44 persen dari total rencana penambahan kapasitas pembangkit sebesar 27,9 GW.

Dari jumlah tersebut, pembangkit listrik tenaga surya mendapat porsi 5,91 GW, tenaga air 3,20 GW, tenaga angin 1,55 GW, panas bumi 0,95 GW, dan bioenergi 0,61 GW. Target bauran energi terbarukan pada 2029 dalam skenario itu mencapai 19,7 persen.

Pengembangan bioenergi PLN EPI juga mencakup biochar atau arang hayati, gas sintetis, biohidrogen, biogas terkompresi, bahan bakar nabati, dan bioetanol. Produk-produk tersebut diarahkan untuk kebutuhan pembangkit, industri, hingga pengembangan bahan bakar berkelanjutan.

Hokkop mengajak generasi muda memanfaatkan peluang tersebut, baik sebagai tenaga kerja maupun pelaku usaha yang memasok bahan baku dan layanan pendukung.

“Teman-teman bisa menjadi tenaga kerja, pemainnya, agregatornya, dan lain-lain,” ujarnya.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+





Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *