JAKARTA – Ketua Umum Paguyuban Demak Bintoro Nusantara (PDBN) Fathan Subchi mengajak warga Demak di perantauan menjaga hubungan dengan daerah asal dan melanjutkan pengabdian para pendahulu. Ia menekankan pentingnya peran generasi muda dalam meneruskan kegiatan sosial yang telah dibangun para sesepuh paguyuban.
Pesan itu disampaikan Fathan, yang juga anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI, dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Aula Ar-Rozak, Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu, 26 September 2026. Kegiatan tersebut dihadiri ratusan warga Demak.
Fathan mengatakan keberlangsungan organisasi tidak bisa hanya bertumpu pada satu orang. Pengalaman dan keteladanan para senior diperlukan agar kegiatan paguyuban terus berjalan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Saya sendiri sejak dulu banyak belajar dari para senior. Kita sebagai aktivis tentu memahami bahwa perjuangan tidak bisa dilakukan sendirian. Kita membutuhkan senior, membutuhkan teladan dan membutuhkan orang-orang yang lebih dahulu berjuang untuk menjadi tempat belajar,” kata Fathan Subchi dalam keterangan tertulis yang diterima Minggu, 27 September.
Ia secara khusus mengenang almarhum Prof. KH. Ahmad Sutarmadi, salah satu pendiri sekaligus penggiat PDBN yang berasal dari Desa Sayung, Demak.
Menurut Fathan, Sutarmadi tetap aktif dalam berbagai kegiatan meski telah berusia lanjut. Ia mengaku pernah menyampaikan tekad untuk meneruskan perjuangan tokoh tersebut.
“Beliau merupakan salah satu sesepuh PDBN, pendiri sekaligus penggiat yang sangat aktif. Walaupun beliau sudah sepuh, semangat perjuangannya tidak pernah surut,” ujarnya.
Fathan juga menyampaikan penghormatan kepada Sekretaris Jenderal BPK RI Syamsuddin yang hadir dalam acara tersebut. Ia mengapresiasi kepedulian Syamsuddin terhadap masyarakat Demak.
Fathan berharap hubungan yang telah dibangun para pendahulu dapat terus dijaga, sekaligus diteruskan melalui kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Sementara itu, Rektor UIN Walisongo Semarang Prof. KH. Musahadi mengingatkan warga Demak yang tinggal di berbagai daerah agar tidak melupakan kampung halaman.
“Orang Demak itu, insya Allah, di mana pun berada, tetap menjadi orang Demak. Kalau ada orang Demak kemudian berdiaspora ke mana-mana, jangan sampai karena sudah ke mana-mana lalu melupakan Demak,” katanya.
Musahadi, yang berasal dari Betahwalang, Demak, mengatakan pengabdian kepada masyarakat tidak ditentukan oleh jabatan atau kedudukan seseorang.
Ia mengutip pandangan ulama Abul Ishaq Ash-Shatibi mengenai tujuan syariat yang menekankan kemaslahatan atau manfaat bagi manusia.
“Menjadi rektor, menjadi menteri, menjadi presiden, atau menjadi apa pun—menjadi kuli, tukang sapu, pedagang buah—apa pun, kalau bisa menjadi sumber kemaslahatan dan kebaikan, insya Allah itu sudah menjalankan agama dengan baik,” ujarnya.
Menurut Musahadi, anggota PDBN perlu menjadikan ilmu dan akhlak sebagai dasar dalam menjalankan kegiatan organisasi maupun kehidupan bermasyarakat.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan perkembangan UIN Walisongo Semarang yang kini memiliki Fakultas Kedokteran. Kampus tersebut sedang mengajukan akreditasi internasional untuk 38 program studi melalui lembaga yang berkedudukan di Jerman.
Peringatan Maulid Nabi itu dibuka Ketua Panitia Muhammad Thohar atau Gus Toto. Rangkaian acara diisi tahlil oleh KH. Solihin Jaelani, tausiah KH. Mujib Khudori, doa oleh KH. Ali Abdillah, serta penampilan hadrah dari Pesantren ABS Bogor.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
